Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Malam Festival Budaya Meriahkan HUT PALI Ke-5

PALI--Sedikitnya 7 kesenian khas kabupaten PALI dari lima kecamatan yang ada meramaikan Malam Festival Budaya dalam rangka memeriahkan HUT PALI ke-5 tahun 2018, Minggu (22/4) malam sekitar pukul 20.00

Tujuh kesenian itu antara lain berupa gitar tunggal, tari bekarang, tari hageria, tari lading, tari burung putih, yoki (penyanyi tunggal perempuan tua), tari ngusir hama.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten PALI Drs. Supriyatno mengatakan bahwa digelarnya malam festival budaya ini sebagai bentuk kegembiraan warga PALI dalam rangka HUT PALI kelima tahun 2018 ini.

"Ada 7 kesenian dari lima kecamatan tampil pada malam hari ini (Minggu malam,red). Semua ini masih dalam rangkaian HUT PALI ke-5 tahun," ungkapnya didampingi Kabid Kebudayaan kabupaten PALI.

Ia juga mengatakan bahwa budaya bisa dijual sebagai dalam sektor pariwisata sehingga bisa menambah Pendapatan  Asli Daerah (PAD) Kabupaten PALI.

"Kalau hanya membangun gedung, negara barat jauh lebih hebat. Namun, yang tidak dimiliki oleh bangsa barat adalah budaya kita, budaya timur. Untuk itu, kami harap dengan festival budaya ini bisa meningkatkan kecintaan kita terhadap budaya asli bangsa kita terutama kabupaten PALI, dengan begitu secara sendirinya akan kita  lestarikan budaya tersebut hingga anak cucu kita," imbuhnya.

Dari pariwisata juga, sambung Suprihyatno bisa menekan angka kemiskinan.

"Saya menghimbau agar adat istiadat daerah kita junjung tinggi. Maraknya musik remik melanggar adat istiadat nenek moyang kita dulu. Jangan sampai budaya kita budaya timur kalah dengan budaya asing," tutupnya.

Ditempat yang sama, Bupati PALI dalam hal ini diwakilkan oleh Asisten III Setda Kabupaten PALI H. Ruswandi, SH mengatakan bahwa pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Terutama para pelaku seni yang turut melestarikan kebudayaan khas kabupaten PALI.

"Kegiatan ini sangat bermanfaat, terutama dapat meningkatkan kecintaan terhadap budaya. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada para pelaku seni yang turut melestarikannya. Kami berharap bisa digelar kegiatan serupa namun dalam skala yang lebih besar," ungkapnya seraya membuka malam festival budaya secara resmi. (red)
Share:

Sedekah Dusun Gunung Kemala, Puluhan Siswa Dari 3 Provinsi Ikut Hanyutkan Rakit

PRABUMULIH – Tradisi Sedekah Dusun merupakan warisan leluhur dari nenek moyang terdahulu yang mesti dilestarikan. Kelurahan Gunung Kemala salah satu daerah di Kecamatan Prabumulih Barat Kota Prabumulih yang sampai saat ini masih melestarikan adat istiadat Sedekah Dusun, sabtu (21/4/18)

Sedekah Dusun yang digelar di Balai Adat Kelurahan Gunung Kemala itu diikuti oleh masyarakat dan puluhan pelajar dari tiga provinsi, yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan



Warga bersama pemangku adat membawa rakit sesajen sedekah untuk hanyutkan kesungai


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat mengunjungi Kelurahan Gunung Kemala dalam Gebyar Seni Budaya Multikultural Se Indonesia berpetualang dalam kegiatan Jejak Tradisi Daerah (Jetrada) 2018

Kegiatan tersebut mengekplorasi tradisi-tradisi daerah guna melestarikan nilai budaya yang mulai tinggal oleh zaman

Puluhan pelajar yang mewakili Provinsi masing-masing yakni Provinsi Bengkulu diwakili oleh SMA Xaverius Curup dan SMAN 1 Rejang Lebong, Provinsi Sumatera Barat SMAN 15 dan 16 Padang dan Provinsi Sumatera Selatan diikuti oleh SMA Negeri 2, 4, 5 dan 18 Palembang dan juga diikuti oleh SMA Negeri 1,5,6 dan 7 Prabumulih



Warga gunung kemala menunggu siraman air suci (belanger) untuk mensucikan diri


Mereka diberikan pendidikan tentang pentingnya dalam melestarikan nilai budaya sekaligus Observasi tentang adat yang ada di Gunung Kemala

Tak hanya itu, puluhan siswa juga menampilkan tarian adat dan drama cerita lokal dari masing-masing provinsi yang digelar di Gedung Serbaguna Kelurahan Gunung Kemala, kamis (19/4/18) seperti cerita Malin Kundang yang diperankan oleh siswa SMAN 15 Padang yang mengisi acara Sedekah Dusun yang menarik perhatian masyarakat setempat

Sedekah Dusun yang diakhiri dengan belangir atau mensucikan diri dengan cara menyiramkan air langir yang terbuat dari berbagai macam tumbuhan seperti buah kundu dan jeruk nipis, kemudian air suci itu disemburkan menggunakan sapu yang terbuat dari batang belidang emas, daun beringin dan kayu salah yang didapat dihutan dan disiram kewarga yang telah duduk rapi menunggu belangir

Tradisi dilanjutkan dengan penghanyutan Rakit yang terbuat dari bambu dan batang pisang yang berisikan sesajen berupa apam serabi, ayam, buah pinang dan sesajen lainnya

Rakit yang dibuat dan sudah diberi mantra oleh Cik Alim Pemangku adat Gunung Kemala lengkap dengan sesajen dihanyutkan keilir sungai, hal tersebut diyakini agar seluruh penyakit dan dosa-dosa yang diperbuat masyarakat akan hilang terbawah arus sungai sedupi


warga bersama siswa menghantarkan sesajen untuk dihanyutkan

“Rakit sesajen kita arak menuju sungai untuk kemudian kita hanyutkan ke sungai sedupi, dengan demikian warga gunung kemala harus berpantang, tidak boleh membakar hutan, menyapu dihalaman dan aktifitas yang menggangu sedekah” tutur Cik Alim

Tradisi yang masih dijalankan oleh masyarakat Gunung Kemala menjadi kebanggaan dan bahan pembelajaran siswa yang ikut dalam jejak tradisi daerah 2018

Kadril, SH selaku ketua Jetrada 2018 Sumatera Barat saat dibincangi wartawan media ini mengatakan sangat mengapresiasi kegiatan leluhur yang hingga saat ini masih dijalankan

“hal seperti inilah yang kami cari, kami memberikan pemahan kepada anak didik kami pentingnya melestarikan adat daerah, karena adat juga merupakan hukum yang tak pernah bisa dilawan oleh masyarakat dan harus dipatuhi masyarakat setempat” tukasnya


Keseruan sedekah dusun yang turut di abadikan masyarakat setempat

“kepatuhan inilah yang menjadi motivasi bagi kita, karena hukum negara masih ada yang bisa melawan namun hukum adat yang melekat membuat mereka patuh dengan perintah adat” tambahnya

Setelah sedekah dusun dilaksanakan warga Gunung Kemala diwajibkan berpantang diri dari aktifitas yang akan mengganggu sedekah selama tiga hari (Taufik)
Share:

Kukuhkan Forum BPD dan Forum Pemangku Adat Kecamatan Tanah Abang, Bupati Bakal Anggarkan Satu Motor Satu Desa Untuk BPD

PALI--Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) Ir H Heri Amalindo MM secara resmi mengukuhkan Forum Badan Permusyawaratan Desa (BPD)  dan Forum Pemangku Adat se-kecamatan Tanah Abang,Selasa malam (20/3) di gedung Harmoko Desa Raja Kecamatan Tanah Abang.

Pembentukan Forum BPD bertujuan memudahkan kinerja kepala desa, karena BPD bukan musuh bagi kepala desa melainkan mitra, seperti halnya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dengan pemerintah  yang harus saling menunjang demi pembangunan suatu daerah. Begitu juga Forum Pemangku Adat yang fungsinya memelihara budaya asli lokal serta sebagai pembimbing bagi generasi muda.



Aka Cholik Darlin S.Pd.I MM, ketua umum Forum BPD dan Forum Pemangku Adat menjelaskan bahwa meskipun hujan mengiringi prosesi pengukuhan dua forum tersebut,namun tak mengurangi semangat anggota BPD serta pemangku adat yang hadir saat itu.

"Tugas BPD merupakan mitra yang harus saling mendukung pembangunan. Dan ada empat poin ikrar forum BPD, salahsatunya akan mendukung penuh Ir H Heri Amalindo MM untuk melanjutkan kepemimpinannya selama dua periode. Selain itu ada ikrar akan mendukung program pemerintah, ikrar itu harus dilaksanakan," ungkap Aka Cholik Darlin.



Sementara itu, Bupati PALI menyatakan sangat mengapresiasi dengan adanya Forum BPD dan Forum Pemangku Adat.

Bupati juga berjanji tahun 2018 ini bakal memberikan satu desa satu sepeda motor inventaris untuk BPD serta pemberian honor pemangku adat.

"Tadi kami adakan pertemuan dengan seluruh kepala desa, di desa ada Dana Desa dan dari APBD ada Alokasi Dana Desa (ADD) sebenar 10 persen dari DBH sebesar Rp 85 Milyar. Dan kami sudah koordinasi dengan Kapolres dan Kepala Kejari agar mencari celah agar BPD dan Pemangku Adat bisa mendapatkan honor dari ADD," jelas Bupati.



Dengan adanya Forum BPD dan Forum Pemangku Adat,diharapkan Bupati sebagai wadah komunikasi serta berkoordinasi untuk menyusun program-program BPD maupun Pemangku Adat. (marsindo)
Share:

LMP, Menyambut Tahun Baru Dengan Cara Berbeda



PRABUMULIH- Kemeriahan menyambut tahun baru identik dengan kembang api dan petasan. Namun tidak demikian dengan Organisasi masyarakat Laskar Merah Putih (LMP) merayakan pergantian tahun baru dengan diisi tausiah, tahlilan dan diakhiri dengan doa bersama, senin (01/01/2018)

Acara yang digelar di Kantor Markas Cabang Laskar Merah Putih Kelurahan Tanjung Rambang Kecamatan Rambang Kapak Tengah (RKT) itu juga dihadiri oleh masyarakat setempat yang ikut memeriahkan jalannya acara pergantian tahun baru.

Ustad Reno yang hadir dalam acara pergantian tahun baru itu memberikan tausiah dan berharap Tahun baru 2018 ini organisasi-organisasi yang ada Seperti LMP mampu menjadi penggerak sekaligus pelopor dalam melindungi masyarakat dari ancaman Narkoba, kejahatan dan penyakit masyarakat lainnya agar indonesia jadi lebih baik.

 

Ketua Laskar Merah Putih Kota Prabumulih Sulastri, S. Sos mengatakan LMP akan terus mendukung penuh program Pemerintahan yang ada demi mewujudkan Prabumulih menjadi Kota Prima, dan berharap organisasi yang dipimpinnya bermanfaat bagi masyarakat.



Kegiatan yang dihadiri oleh Kapolsek Rambang Kapak Tengah (RKT) Vedria Sukri menambah meriahnya acara pergantian tahun baru, dalam sambutanya menghimbau kepada masyarakat merayakan pergantian tahun baru tidak perlu dirayakan dengan cara yang berlebihan dan mengakibatkan kerugian.

“Masyarakat tidak perlu menggunakan petasan dan pesta miras dimalam pergantian tahun baru, jika kedapatan kami tidak segan untuk menindak” ungkapnya, sambungnya kepolisian akan terus memastikan keamanan masyarakat dari tindakan kriminal menjelang pergantian tahun baru “ tutupnya. (SN01)

Share:

Lestarikan Budaya,Disbudpar PALI Rangkul Pemangku Adat

PALI--Lestarikan budaya asli Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI),Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) PALI merangkul pemangku adat untuk ikut berperan aktif dalam menjaga adat istiadat warga di wilayah Bumi Serepat Serasan.

Bukan hanya merangkul pemangku adat dalam melestarikan budaya leluhur asli Kabupaten yang baru berumur empat tahun ini,namun Disbudpar juga melakukan pertemuan rutin dengan para pemangku adat di masing-masing kecamatan.

Pada rapat pertemuan yang digelar selama lima hari mulai tanggal 20-24 November 2017 lalu secara berkeliling ke Kecamatan-kecamatan, Disbudpar mengajak narasumber dari tokoh pemangku adat untuk mengingatkan budaya perkawinan yang masih dipakai masyarakat saat ini.


"Kegiatan ini bertujuan untuk kepentingan kegiatan pelestarian dan aktualisasi adat budaya daerah serta program pengembangan nilai budaya asli di kabupaten PALI.Seluruh pemangku adat kita ajak,dan untuk menggelar rapat pertemuan,kita datangi langsung ke masing-masing kecamatan," terang Suprihyatno,kepala Disbudpar Kabupaten PALI melalui Kabid Kebudayaan,Filomina Emawati S.Pd.M.Si,Rabu (6/12).

Rapat pertemuan kali ini, dikatakan Filomina difokuskan menggali adat perkawinan.

"Tujuannya menyatukan persepsi tentang adat perkawinan di kabupaten PALI agar tidak hilang.Dari proses lamaran,pernikahan sampai prosesi pestanya," imbuhnya.

Diharapkannya bahwa selain memelihara budaya asli Kabupaten PALI,kegiatan itu juga untuk menggali adat istiadat yang sudah jarang dipakai bahkan nyaris dilupakan.

"Yang kita ajak ada 330 orang pemangku adat yang tersebar di lima kecamatan, semuanya kita minta agar mereka (pemangku adat) sebagai tokoh masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga budaya agar jangan sampai punah," harapnya.(admin)
Share:

Youtube SiniNews

Facebook SINI News

Followers

Subscribers

Postingan Populer

Blog Archive

Comments

Berita Utama

sitemap

Recent Posts