Pages

Sunday, May 12, 2019

Puncak Kemarau Bulan Juli

MUARA ENIM--Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel Pandji Tjahtanto S Hut, MSI, mengatakan sesuai dengan prakiraan, puncak musim kemarau tahun ini terjadi pada bulan Juli – September mendatang. Karena berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG, awal musim kemarau tahun ini  dimulai pada bulan Juni.

              “Walaupun  sampai hari ini kondisi cuaca masih kondusif, hujan masih ada. Namun saya ingatkan kepada semua pihak  untuk tidak terlena  dan selalu siaga dalam menghadapi perubahan cuaca  dan iklim yang  seringkali tak menentu,” jelas Pandji saat memimpin apel siaga api yang dilaksanakan manajemen perusahaan HTI PT Musi Hutan Persada beberapa waktu lalu.

              Menjadi sangat penting, lanjutnya, untuk  memastikan bahwa tak ada kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan asap. Karena  jelas akan mengganggu kesehatan lingkungan  serta aktifitas kerja setiap hari.

          Dijelaskannya, upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan  di Sumsel makin ditingkatkan oleh semua pihak, melalui berbagai strategi pendekatan yang lebih efektif.

             Karena, lanjutnya, Provinsi Sumsel  termasuk salah satu provinsi  di Indonesia  yang memiliki kerawanan kebakaran hutan , kebun dan lahan tinggi.

              Itu dapat dilihat dari bencana kebakaran hutan  dan lahan beserta  asapnya yang besar  di tahun  2015 tercatat luas  hutan, kebun dan lahan  yang terbakar  mencapai sekitar 736.563 hektar. 

                  Namun, lanjutnya, pada tahun 2016 kebakaran berkurang menjadi 978 hektar. Kemudian tahun 2017  kebakaran menjadi 9.285 hektar dan tahun 2018  kebakaran kebun, hutan dan lahan  menjadi 41.150 hektar.

                  “Berarti terjadi penurunan yang cukup siknifikan,” jelasnya. Demikian juga terhadap jumlah titik panas atau hitspot pada tahun 2015 berjumlah 27.043 titik, tahun 2016 berjumlah 1.214 titik, tahun 2017 dan 2018  sebanyak 2.840 titik.

                “ Sampai dengan Bulan April lalu sudah mulai terdeteksi adanya hotspot  berjumlah 46 titik,” jelasnya. Potensei kebakaran  hutan dan lahan di Sumsel cukup tinggi dengan adanya lahan gambut  yang cukup luas mencapai 1,41 juta hektar atau sekitar seperlima dari luas wilayah Sumsel. Lahan gambut tersebut tersebut di wilayah OKI hingga perbatasan Muba dan Jambi,  di wilayah Kabupaten PALI, Muara Enim, Ogan Ilir, Banyuasin dan  Musi Rawas Utara.

0 komentar:

Post a Comment