Pages

Sunday, May 19, 2019

Miris, Dua Keluarga Miskin di PALI Tidak Pernah Tersentuh Bantuan

PALI--Tinggal seorang diri dan mencari nafkah hanya menjadi buruh menyadap karet dengan kondisi rumah yang memprihatinkan, nenek Sainimah (65) warga Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) tetap bertahan hidup dibawah garis kemiskinan.

Dari keterangan nenek Sainimah, bahwa sejak ditinggal sang suami tiga tahun silam, kehidupannya kian berat, lantaran dirinya harus banting tulang untuk mencukupi kehidupannya. Sementara, dari perkawinannya selama 25 tahun dengan sang suami, dirinya tidak dikaruniai anak.

Bahkan rumah yang mirip gubuk berukuran lebih kurang 2X3 meter berdinding anyaman bambu itu yang telah lebih 25 tahun didiaminya masih menumpang di lahan milik warga setempat. Tidak ada isi rumah yang mewah, bahkan listrik pun dia masih menggunakan minyak tanah.

Lebih mirisnya lagi, beras pra sejahtera (Rastra) atau Raskin selama dirinya hidup, belum pernah dia nikmati, apalagi jenis bantuan pemerintah lainnya, PKH, BLSM atau jenis batuan lainnya tidak pernah dia dapatkan.

Yang dia makan saat ini, murni dari tetes keringatnya sendiri dari hasil upahannya menyadap karet, dimana penghasilannya tidak tetap, terkadang dirinya mendapat Rp 150.000/minggu, itupun kalau harga getah karet sedang meningkat. Namun kalau harga karet jatuh, terkadang penghasilan nenek Sainimah dibawah Rp 100.000/minggu.

Saat hingar bingar pesta demokrasi yang lalu, nenek Sainimah bahkan sama sekali tak pernah dilirik partai politik atau Caleg apalagi Capres yang sibuk mencari suara. Bagi dirinya, politik tidak ada pengaruh bagi kehidupannya, yang dia takutkan saat ini adalah usianya yang semakin senja dan jatuh sakit, tentunya dia tidak bisa mengais rezeki lagi dan ditakutkan tidak ada orang peduli untuk merawatnya.

"Orang miskin seperti aku ini tidak ada yang membutuhkan, saat ini memang masih punya tenaga, tetapi kalau sudah sakit-sakitan, aku takut tidak ada orang yang mau mengurus. Namun, aku pasrahkan saja pada Tuhan," ujar nenek Sainimah, saat dijumpai media ini, Minggu (19/5).

Diakuinya bahwa yang dia harapkan dan selalu dipinta saat berdoa adalah selalu diberi kesehatan, ataupun apabila Tuhan akan mencabut nyawanya, janganlah diberi sakit terlebih dahulu agar tidak ada orang yang ikut susah dengan kondisinya.

"Aku sudah terbiasa seperti ini, harapan untuk memperbaiki kehidupan sudah punah, apalagi harus minta-minta bantuan dari pemerintah, kalaupun ada perhatian dari pemerintah, kenapa tidak diberikan sejak dari dulu. Hanya satu permintaan aku dengan Tuhan adalah kesehatan dan aku tidak ingin menyusahkan orang lain, biarlah aku miskin dan menanggung beban hidup seorang diri," tukasnya dengan tatapan mata kosong.

Kemiskinan yang mendera nenek Sainimah di Desa Babat rupanya juga dialami Ajamudin (35) yang tinggal di sebuah gubuk yang nyaris roboh bersama sang istri, Santi (25).

Kondisi rumah Ajamudin lebih parah dari kediaman nenek Sainimah. Dinding bangunan dan atapnya yang terbuat dari daun ilalang telah lapuk dan sudah jauh tidak layak huni. Bantuan pemerintah, tak satupun belum menyentuhnya, padahal kondisi keluarga itu sangat memprihatinkan.

Dari pengakuan Arka Nurawi, kepala
Desa Babat membenarkan bahwa kedua keluarga tersebut memang tidak pernah menerima bantuan. Padahal, pihak desa telah berulang kali mengusulkan, tetapi entah apa penyebabnya tidak pernah keluar nama Sainimah dan Ajamudin sebagai penerima bantuan.

"Kalau untuk perehapan rumah, kami berencana melakukannya melalui swadaya atau melalui dana desa, karena pemilik lahan sudah menyetujuinya dengan syarat bangunan rumah jangan permanen. Sudah kami rapatkan di desa, dan masyarakat setuju. Karena meminta bantuan dari Dinsos, alasanya, lahan pekarangan bukan milik bersangkutan," ungkap Kades.

Namun demikian, Kades berharap, Pemerintah daerah atau pusat mengupayakan celah lain untuk bisa membantu keluarga Sainimah maupun Ajamudin.

"Yang dibutuhkan mereka saat ini adalah hunian yang layak. Karena nenek Sainimah apalagi Ajamudin, apabila hujan, mereka mencari pondok (pance) milik tetangganya," harap Kades.

Terpisah, Etika Metty Plt Kepala Dinsos mengaku bahwa kesulitan membantu untuk membedah rumah Ajamudin dan Sainimah.

"Kendala administrasi, dimana penerima bantuan bedah rumah, salahsatu syaratnya, lahan harus milik yang bersangkutan. Tetapi tetap kita upayakan bantuan," kata Metty.

0 komentar:

Post a Comment