Pages

Tuesday, July 16, 2019

Andai Program Transmigrasi Batal, Ini Yang Bakal Ditempuh Warga Tempirai

PALI, SININEWS.COM - Adanya aksi damai dari HIMAPALI meminta pemerintah evaluasi program transmigrasi di Desa Tempirai Kecamatan Penukal Utara Kabupaten PALI yang saat ini, Selasa (16/7) telah berlangsung di Simpang Lima Pendopo dan ke DPRD serta Kantor Bupati PALI mendapat kecaman keras dari masyarakat Desa Persiapan Tempirai Barat. 

Karena menurut warga yang disampaikan Kepala Desa Persiapan Tempirai Barat, Dedi Handayani bahwa aksi tersebut bisa menghambat proses pembukaan lahan transmigrasi tahap awal seluas 900 hektar yang bakal dilaksanakan di tahun 2020 mendatang. 

"Mahasiswa khususnya HIMAPALI merupakan pemuda yang berpendidikan penerus bangsa ini, seharusnya mengkaji terlebih dahulu sebelum aksi. Datang ke Tempirai, tanyai warga setempat yang bersentuhan langsung dengan adanya pembukaan lahan bakal lokasi transmigrasi. Dari hasil itu, pasti diketahui apakah program itu membawa mashlahat atau mudarat," kata Kades, Selasa (16/7).

Dedi Handayani menegaskan apabila aksi demo itu pengaruhi proses pembukaan lahan transmigrasi atau bahkan sampai batal, maka masyarakat Tempirai bakal meminta pertanggungjawaban terhadap mahasiswa yang lakukan aksi demo tersebut. 

"Kalau sampai batal, kami warga Tempirai bakal tuntut mahasiswa yang lakukan aksi demo tadi. Karena keinginan untuk dijadikan lahan transmigrasi cukup lama, dan sudah beberapa kali dilakukan penjajakan, baik dari kementerian transmigrasi maupun daerah yang tertarik mengirim warganya untuk bertrasmigran," tandas Kades. 

Diterangkan Kades status lahan bakal lokasi transmigrasi, yang memang awalnya lahan itu milik warga, tetapi telah diserahkan warga ke pemerintah. Dan proses untuk dijadikan lahan transmigrasi tidak instan tetapi melalui banyak proses yang memakan waktu lama. 

"Lahan yang bakal dibuka itu merupakan lahan tidur yang sudah lama tidak digarap, apabila warga yang membuka lahan itu merupakan hal yang mustahil, karena kondisi lahan itu sudah jadi semak belukar. Nah untuk dijadikan lajan transmigrasi, kami warga Tempirai sudah menyerahkan ke pemerintah PALI, lalu ditindaklanjuti Disnakertrans ke Kementerian transmigrasi," ungkapnya. 

Karena menurut Kades keinginan masyarakat Tempirai sangat berdasar, untuk pengembangan suatu daerah dan mewujudkan kembali kejayaan Tempirai sebagai penghasil padi.

"Tahun 80an, desa kami terkenal dengan hasil padinya. Namun akibat banyak hama, akhirnya ditinggalkan dan beralih menanam karet. Dengan dibukanya lahan tidur tersebut untuk lokasi transmigrasi, maka lahan tidur akan bisa produktif dan meski ada transmigran dari luar daerah, namun warga lokal pun tetap diajak sebagai transmigran lokal dengan pembagian 60 dari lokal dan 40 dari luar daerah," jabar Kades. 

Diketehui sebelumnya bahwa sekitar 20 orang mahasiswa yang tergabung dalam HIMAPALI menggelar aksi damai di Simpang Lima Pendopo, DPRD kemudian ke kantor Bupati, meminta agar Pemkab mengkaji ulang program transmigrasi di Desa Tempirai. (sn)

0 komentar:

Post a Comment