Pages

Wednesday, November 6, 2019

PORPROV : Urgensi vs Multiflier Effect

PRABUMULIH, SININEWS.COM - SININEWS.B ini isu yang sedang hangat dibicarakan adalah tentang perhelatan akbar event olahraga sepropinsi atau yang lebih dikenal dengan Porprop akan diselenggarakan di Prabumulih sebagai tuan rumah dari 16-26 November 2019. Rencana besar ini tentu saja menuai kontroversi dari berbagai kalangan yang menilai dari sudut pandang berbeda.

Ada yang pesimis akan kesiapan pemerintah kota terkait kesiapan fasilitas dan infrastruktur pendukung, ada pula yang mengkritisi lebih baik dananya digunakan untuk membangun jalan yang berlobang, namun tidak sedikit pula yang mendukung.

Marilah kita lupakan sejenak nuansa politis yang mungkin ada sebagai hidden agenda. Tulisan ini sengaja dibuat untuk mengkaji porprop dari sisi ekonomis dan benefit lainnya sebagai value added yang dapat dirasakan oleh masyarakat sebagai satu kesatuan.

Pertanyaannya mengapa setiap daerah atau negara acapkali berlomba mengajukan diri sebagai tuan rumah pada gelaran acara seperti ini, bahkan ada yang berani untuk satu laga internasional.

Sebagai praktisi yang cukup lama berkecimpung dalam event MICE (Meeting, Incentive, Conference dan Exhibition) di Yogyakarta, penulis ingin berbagi sekilas riset. Pada tahun 2002, sebagai Sekjen JISEC (Jogja International Silk Exhibition & Conference), penulis didapuk untuk menggawangi acara akbar yakni temu pakar dan pameran Sutra sedunia yang dihadiri oleh 210 delegasi dari 23 negara bertempat di Jogja Expo Center (JEC). Pasca acara tersebut, penulis mencatat beberapa transaksi besar yang dapat dibukukan sebagai berikut : pendapatan dari registration fee peserta menghasilkan US$ 30.000. Mereka tersebar menginap di beberapa official hotel dengan length of stay 4-5 hari membukukan $ 20.185.

Mayoritas tamu terbesar dari Jepang berjumlah 105 orang menggunakan maskapai nasional Garuda sebagai akses dari dan ke Yogyakarta mencatat transaksi $ 115.500, belum ditambahkan dengan optional tour sebesar $4350 dan other arrangement seperti dinner dan private tour berkisar $ 2784. Begitu pula dengan belanja per hari oleh tiap orang yang diasumsikan US$ 2.8 dikalikan jumlah peserta sama dengan $ 2100. Sehingga membukukan total transaksi kurang lebih US$ 174.919. Suatu angka yang fantastis pada masa itu, apalagi jika ditambahkan pemasukan dari registrasi dan transaksi selama masa pameran sutra yang berorientasi ekspor. (data dari laporan pelaksanaan didukung oleh data dari ASITA Yogyakarta).

Dari sini kita dapat membayangkan event sekecil itu saja yang hanya dihadiri ratusan peserta dapat berkontribusi pada peningkatan volume transaksi yang cukup signifikan, apalagi kalau event akbar yang dihadiri oleh ribuan undangan. Pertanyaan yang timbul siapa saja yang akan terkena multiflier effect porprov? Jelas dan tak terbantahkan adalah pelaku usaha/pedagang barang dan jasa. Dimulai dari perbaikan dan pembuatan fasilitas dan infrastruktur maka akan ada belanja tambahan akan building materials dari pemkot terlepas itu melalui pihak ketiga.

Kemudian penulis membuat estimasi jika setiap kab/kota sebanyak 17 katakanlah rata-rata mengirim 300-400 atlit dan official selama 11 hari event tersebut sehingga total kurang lebih akan ada 8000 eksodan yang akan berdiam di Prabumulih. Mari kita berandai-andai secara ilmiah, 3 sektor yang akan merasakan dampak langsung dari event ini adalah akomodasi penginapan, transportasi (sewa mobil) dan catering/jasa boga. Penulis mendapatkan info valid dari salah satu komite olahraga satu kabupaten, rata-rata anggaran untuk ketiga sektor tersebut adalah Rp 550 juta dikalikan 17 kab/kota. Sebuah angka yang lumayan yakni Rp 9.3 miliar spending selama 11 hari.

Memang angka yang kecil jika dibandingkan dengan PAD per tahun. Namun kita juga harus berhitung bahwa akan banyak masyarakat kecil dan menengah yang kebagian multiflier effect, mulai dari warung pinggir jalan dan sekitar penginapan, jasa laundry, counter pulsa, pusat kuliner dan hiburan, souvenir, bahkan sampai kepada tukang pijat serta tukang parkir pun akan kebagian sebagai akibat mobilisasi massa yang cukup besar selama event berlangsung.

Oleh karenanya penulis berperspektif masyarakat harus menyambut event ini dengan sukacita berharap berkah lainnya berupa non-angka. Urgensi event ini juga berguna untuk semakin mengenalkan kota, mendidik prilaku masyarakat terbiasa dengan acara skala besar sehingga ada perubahan sikap dan mindset terhadap pergaulan luas sebagai value added, menyuguhkan hiburan tambahan karena kita minim tempat wisata selain memberdayakan ekonomi.

Ambil satu hikmah tersembunyi, justru dengan adanya event ini pembangunan yang tadinya mangkrak seperti GOR, serta beberapa fasum olahraga lainnya mulai dibenahi dan dapat digunakan untuk jangka panjang, tentunya harus disertai pemeliharaan yang melekat. Sebagai catatan yang harus digarisbawahi penulis bukanlah corong salah satu pihak yang diuntungkan oleh kegiatan ini. Murni bertujuan membagi sedikit pengalaman dan ingin melihat profil kota yang kita cintai ini dapat sejajar dengan kota-kota besar lainnya yang dapat diperhitungkan.

Selamat bekerja dan sukses untuk atlit yang berlaga menjunjung tinggi nilai solidaritas dan sportifitas. Jayalah Prabumulih Prima. (Ril)

0 komentar:

Post a Comment