Harga Getah Naik Sangat Tipis, Petani Masih Gundah

PALI -- Perkembangan harga getah kualitas mingguan terpantau hari ini, Selasa (25/2) di pasar getah Desa Persiapan Jerambah Besi Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) kembali alami kenaikan, tetapi angkanya sangat tipis. Yakni dikisaran Rp 6.500 sampai Rp 6.700/kg naik dari harga pasaran minggu lalu yang hanya tembus paling tinggi diangka Rp 6.300/kg.

Kondisi ini tidak membuat petani karet setempat sumringah, namun malah sebaliknya, masih banyak terlihat wajah muram terpaut dari wajah para petani.

Menurut Sairi, salah satu petani karet setempat bahwa naiknya harga getah diprediksi tidak akan bertahan lama, sebab sudah menjadi kebiasaan, naiknya harga getah paling lama bertahan satu bulan.

"Kalau naik merangkak, tapi kalau turun langsung terjun. Jadi naiknya harga getah kali ini tidak membuat kami terhibur," ungkap Sairi. 

Sama halnya diutarakan Sucipto, petani lainnya bahwa meski harga naik, perolehan getah petani pada dua minggu terakhir ini anjlok karena faktor curah hujan cukup tinggi.

"Hujan kerap turun di siang hari. Tentu latex yang kami sadap hanyut terbawa air hujan. Jadi kami saat ini berada diujung sial, sudah harganya rendah, hasil sadapan juga turun drastis membuat penghasilan kami jauh menurun. Diperparah lagi harga kebutuhan pokok melambung, seperti bumbu dapur dan sayuran jauh tidak sebanding dengan harga karet," keluh Sucipto. 

Hanya pasrah yang saat ini ada dibenak Sucipto dan petani lainnya, sebab kata Sucipto percuma mengeluh kalau harga getah ditentukan pasar dunia. 

"Berharap hujan reda, jadi kami bisa normal jalankan aktivitas sehari-hari agar hasil sadapan normal dan bisa melimpah. Sebab kalau hasil melimpah, meski harga rendah, namun penghasilan kami bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari," harapnya. 

Sebelumnya, Erizon, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten PALI menyarankan untuk mendapat bantuan pupuk atau bibit karet dari pemerintah supaya mendongkrak produksi getah, petani mengajukan permohonan melalui kelompok tani yang disampaikan ke Dinas Pertanian. 

"Dan kalau bisa petani karet untuk menanam tanaman lain disekitar kebunnya secara tumpang sari, agar bisa menopang penghasilannya. Seperti kacang kedelai atau tananan yang bisa menyesuaikan pada kondisi tumpang sari. Atau bisa juga memanfaatkan pekarangan rumah," saran Erizon. (sn) 
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SINI NEWS YOUTUBE CHANNEL

Facebook SINI News

Pengikut

Subscribers

Postingan Populer

Arsip Blog

Comments

Berita Utama

sitemap

Recent Posts