Cegah Karhutla di PALI, Polsek Tanah Abang Ingatkan Warga Kelola Lahan Secara Aman

Cegah Karhutla di PALI, Polsek Tanah Abang Ingatkan Warga Kelola Lahan Secara Aman



PALI-SiniNews.Com – Dalam upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), Polsek Tanah Abang melaksanakan sosialisasi sekaligus patroli larangan membuka lahan atau kebun dengan cara dibakar di Desa Sukaraja, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Senin (12/10/2026).


Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB tersebut dilaksanakan oleh personel Polsek Tanah Abang, dengan Kapolsek Tanah Abang AKP Arzuan, S.H. diwakili Aipda Beni Arshal, serta melibatkan masyarakat setempat.


Dalam kegiatan tersebut, personel kepolisian menyampaikan imbauan kepada masyarakat agar tidak membuka lahan maupun kebun dengan cara dibakar, terlebih saat memasuki musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.


Masyarakat juga diajak mencari alternatif yang lebih aman dan bermanfaat secara ekonomi dalam mengelola perkebunan. Salah satunya dengan memanfaatkan pohon karet yang sudah tua untuk ditebang dan dijual sebelum melakukan peremajaan kebun.


Kapolsek Tanah Abang AKP Arzuan, S.H., mengatakan bahwa sosialisasi dan patroli tersebut merupakan langkah pencegahan agar masyarakat memahami bahaya pembakaran lahan serta turut menjaga lingkungan.


“Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan atau kebun dengan cara dibakar. Selain berisiko menyebabkan kebakaran meluas, tindakan tersebut juga dapat berdampak terhadap kesehatan dan lingkungan. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mencegah Karhutla dengan mengelola lahan secara aman dan tidak melanggar hukum,” ujar AKP Arzuan.


Ia menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami konsekuensi hukum dari pembukaan lahan dengan cara membakar. Karena itu, peran aktif warga sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kecamatan Tanah Abang.


Kegiatan sosialisasi dan patroli berakhir sekitar pukul 14.30 WIB. Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman, lancar, dan kondusif.


Melalui kegiatan tersebut, Polsek Tanah Abang berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat sehingga potensi Karhutla dapat dicegah sejak dini demi menjaga kelestarian lingkungan dan keamanan wilayah Kabupaten PALI.(SN/Perry).

Share:

Antisipasi Karhutla di PALI, Polsek Talang Ubi Dorong Warga Kelola Kebun Secara Aman

Antisipasi Karhutla di PALI, Polsek Talang Ubi Dorong Warga Kelola Kebun Secara Aman


PALI-SiniNews.Com– Dalam upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), Polsek Talang Ubi terus menggencarkan sosialisasi larangan membuka lahan atau kebun dengan cara dibakar kepada masyarakat. Kali ini, kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Handayani Mulya, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Senin (12/10/2026).


Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 08.00 WIB tersebut dilaksanakan oleh jajaran Polsek Talang Ubi di bawah pimpinan Kapolsek Talang Ubi AKP Ardiansyah, S.H., bersama Bhabinkamtibmas. Dalam kegiatan itu, personel menyampaikan imbauan secara langsung kepada masyarakat, termasuk Heryadi dan Dona.


Bhabinkamtibmas mengingatkan warga agar tidak membuka lahan maupun kebun dengan cara dibakar, terutama saat memasuki musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.


Selain memberikan pemahaman tentang bahaya pembakaran lahan, masyarakat juga diajak mempertimbangkan cara pengelolaan perkebunan yang lebih aman dan bermanfaat secara ekonomi. Salah satunya dengan memanfaatkan pohon karet yang sudah tua untuk ditebang dan dijual sebagai tambahan penghasilan keluarga.


Kapolsek Talang Ubi AKP Ardiansyah, S.H., mengatakan bahwa sosialisasi tersebut merupakan bagian dari upaya pencegahan dini untuk mengantisipasi terjadinya Karhutla di wilayah hukumnya.


“Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan atau kebun dengan cara dibakar. Selain berpotensi memicu kebakaran yang meluas, tindakan tersebut juga dapat merusak lingkungan dan mengganggu kesehatan masyarakat. Kami mengajak seluruh warga untuk bersama-sama menjaga lingkungan serta memilih cara yang aman dalam mengelola lahan perkebunan,” ujar AKP Ardiansyah.


Ia juga mengingatkan masyarakat bahwa pembukaan lahan dengan cara membakar dapat menimbulkan konsekuensi hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Karena itu, kesadaran dan kerja sama masyarakat sangat diperlukan agar kebakaran hutan dan lahan dapat dicegah sejak dini.


Kegiatan sosialisasi berakhir sekitar pukul 09.30 WIB. Selama pelaksanaan kegiatan, situasi berlangsung aman, lancar, dan kondusif.


Melalui kegiatan ini, Polsek Talang Ubi berharap masyarakat semakin memahami pentingnya pencegahan Karhutla serta berperan aktif menjaga kelestarian lingkungan di wilayah Kabupaten PALI. (SN/Perry).

Share:

Udara Pali Masuk Zona Berbahaya, Sekcam Talang Ubi bersama Anggota DPRD dan Pertamina Bagikan 2.650 Masker Gratis

Udara Pali Masuk Zona Berbahaya, Sekcam Talang Ubi bersama Anggota DPRD dan Pertamina Bagikan 2.650 Masker Gratis


PALI —SiniNews.Com- Indeks Kualitas Udara di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) menyentuh level Zona Berbahaya. Menanggapi kondisi darurat polusi udara tersebut, aksi tanggap cepat digelar di kawasan Terminal hingga Pasar Inpres Talang Ubi Pendopo, Kabupaten PALI, Sumatra Selatan, pada Senin (12/10/2026).


Dalam aksi kepedulian sosial ini, Sekcam Talang Ubi yang juga bertindak sebagai Plt. Lurah Talang Ubi Barat, Hj. Ritawati Anwar, S.Th.I., M.Si., NL.P, turun langsung ke lapangan bersama jajaran staf kelurahan. Turut hadir mendampingi, Anggota DPRD Kabupaten PALI dari Partai Hanura, H. Husni Tamrin, serta perwakilan dari manajemen PT Pertamina EP Field Pendopo.


Kegiatan kolaboratif ini membagikan total ribuan masker gratis secara langsung kepada para pedagang, pengendara, dan masyarakat yang beraktivitas di sekitar pusat keramaian Talang Ubi.

Aksi pembagian masker ini terselenggara berkat kerja sama dan kepedulian dari berbagai pihak. Adapun rincian bantuan masker yang disalurkan meliputi:


Hj. Ritawati Anwar & H. Husni Tamrin (Pribadi): 1.500 lembar masker

Bupati PALI, Asgianto, S.T.: 1.000 lembar masker

PT Pertamina EP Field Pendopo: 150 lembar masker


Total Masker Terdistribusi ke masyarakat 2.650 lembar masker disalurkan secara mendadak kepada warga masyarakat Talang Ubi guna mengantisipasi dampak buruk ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). (Catatan: Akumulasi seluruh bantuan berjumlah 2.650 lembar).


Di sela-sela pembagian masker, Hj. Ritawati Anwar mengimbau seluruh masyarakat Talang Ubi untuk terus waspada dan mengantisipasi dampak buruk dari penurunan kualitas udara ini.


"Melihat indeks pencemaran udara yang sudah masuk kategori berbahaya, kami mengimbau warga agar mengurangi aktivitas di luar rumah jika tidak terlalu mendesak. Apabila harus keluar, pastikan selalu menggunakan masker demi menjaga kesehatan respiratory kita bersama," ujarnya.


Masyarakat dan para pedagang di Pasar Inpres Pendopo menyambut baik serta mengapresiasi langkah cepat para pejabat daerah, anggota legislatif, dan pihak swasta yang peduli terhadap kesehatan warga di tengah situasi darurat polusi udara ini.(SN/Perry).

Share:

Komite SMAN 18 Palembang Bantah Pemberitaan Hoaks Soal Kepengurusan dan Sumbangan Sekolah

 Komite SMAN 18 Palembang Bantah Pemberitaan Hoaks Soal Kepengurusan dan Sumbangan Sekolah


PALEMBANG--SiniNews.Com - Pengurus Komite SMA Negeri 18 Palembang memberikan klarifikasi tegas terkait pemberitaan miring yang beredar di salah satu media lokal. Berita yang dirilis oleh oknum wartawan berinisial AL tersebut dinilai menyesatkan karena menyebut adanya oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) atau guru yang menduduki posisi Bendahara Komite Sekolah.


Wakil Ketua Komite SMAN 18 Palembang, Dra. Agustina Jayanti, M.M., menegaskan bahwa tuduhan tersebut sama sekali tidak benar dan tidak memiliki dasar yang kuat.


"Perlu kami sampaikan bahwa Bendahara Komite berasal dari unsur wali siswa atau tim komite, bukan dari pihak guru maupun ASN. Hal ini tercantum secara resmi dan jelas dalam SK Kepengurusan Komite," ujar Agustina saat memberikan keterangan, Jumat (9/10/2026).


Pernyataan ini sekaligus mempertegas pemenuhan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah, yang secara eksplisit melarang unsur guru atau tenaga pendidik sekolah setempat menjadi pengurus komite.


Mitra Sekolah dan Transparansi Dana Komite


Lebih lanjut, Agustina menjelaskan kedudukan komite sebagai mitra strategis sekolah. Berdasarkan regulasi yang berlaku, komite berperan mendukung kelancaran berbagai program pendidikan yang tidak sepenuhnya tercover oleh Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah pusat maupun Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) dari pemerintah provinsi.


Terkait dengan penggalangan dana, pihak komite memastikan seluruh proses berjalan secara transparan, sukarela, dan tanpa ada unsur pemaksaan kepada para orang tua siswa.


"Tidak pernah ada tekanan atau paksaan kepada orang tua siswa untuk membayar uang komite. Besaran yang diberikan murni berdasarkan kesanggupan dan keikhlasan orang tua melalui proses wawancara atau asesmen di awal tahun ajaran baru. Bahkan, bagi keluarga yang tidak mampu, kami bebaskan dari biaya tersebut," ungkapnya.


Di akhir keterangannya, pihak komite mengajak seluruh lapisan masyarakat dan insan media untuk menyikapi informasi secara bijak demi iklim pendidikan yang kondusif.


"Mari kita berpikir jernih dengan niat tulus demi kemajuan dunia pendidikan, sehingga para guru dapat tetap fokus dalam menjalankan tugas utamanya mendidik siswa," tutup Agustina.

Share:

Pudarnya Kearifan Lokal Ketika Korupsi Dianggap Normal

Pudarnya Kearifan Lokal Ketika Korupsi Dianggap Normal



Oleh: 

*Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers*


JAKARTA - SiniNews.Com- Dalam berbagai forum diskusi seringkali saya memperoleh pertanyaan yang menusuk hati namun sulit menjawabnya. Yaitu, mengapa korupsi di Indonesia semakin meningkat, seiring dengan ramainya aktivitas keagamaan? Tulisan ini bisa saja disebut sebagai keluhan dan keprihatinan dan sekaligus mengajak pembaca ikut serta berbagi pengalaman.   


Sejak kecil duduk di bangku Sekolah Rakyat sampai menjadi mahasiswa, saya percaya dan sekaligus mengagumi keragaman tradisi lokal yang sangat kaya dari bangsa Indonesia. Masing-masing mengajarkan warganya untuk hidup berbudi luhur, menjaga kejujuran dan menjaga nama baik keluarga serta sukunya. Budi luhur merupakan modal sosial dan pilar budaya untuk membangun bangsa dan negara yang berkeadaban sehingga pemerintah dan negara disegani dan dikagumi rakyatnya serta masyarakat dunia. Indonesia terdiri dari beragam suku, yang termasuk besar adalah suku Jawa. Tetapi bangsa Indonesia bukanlah ethnic nation, bukan bangsa berdasarkan suku, tetapi merupakan civic nation. Sebuah bangsa dan negara yang dibangun berdasarkan nilai-nilai dan cita luhur luhur yang disarikan dari kearifan lokal yang kemudian diformulasikan ke dalam Pancasila. 


Setelah mengenal dan bergaul lebih dekat dengan dunia birokrasi pemerintahan dan politik, kepercayaan dan kekaguman saya tentang kepribadian unggul bangsa tadi menjadi redup dan cenderung buyar. Tentu saja hal ini pengalaman subyektif yang sangat menyedihkan. Saya masih ingat, masyarakat Jawa mengenal budaya mikul duwur, mendem jero, unggah-ungguh, tepa selira, dan gotong royong. Teman dari Minang mengenalkan pepatah Minangkabau, dima bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang, yaitu kemampuan menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial tanpa kehilangan martabat. Lalu teman dari Bugis mengenalkan siri’ na pacce, menjaga nilai kehormatan dan solidaritas. Sementara masyarakat Bali memegang prinsip Tri Hita Karana, harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Lalu ke timur lagi, masyarakat Maluku memegang nilai kehidupan pela gandong yang mengandung makna: kita semua bersaudara, meskipun berbeda agama, kampung dan asal-usul. Mereka memiliki ungkapan terkenal: Ale rasa beta rasa, katong samua orang basudara. Engkau merasakan, aku juga merasakan, kita semua bersaudara. Dan masih banyak lagi kearifan lokal dari suku-suku lain yang mengajarkan hidup berkeadaban dan saling menghormati yang lain. 


Berbagai kearifan lokal tersebut merupakan fondasi etika dan sumber kebijaksanaan dalam mengatur hubungan antarmanusia. Di dalamnya ditekankan agar hidup saling tolong-menolong, menjaga kejujuran, dan menjaga nama baik serta kehormatan orang tua dan sukunya. Sebagai praktisi pendidikan, saya seringkali merenungkan. Mengapa anak-anak yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan agama dan budaya yang menjunjung tinggi budi pekerti, ketika menduduki jabatan birokrasi negara, justru sebagian terlibat korupsi yang merugikan rakyat dan mencoreng kehormatan sukunya? Mengapa seseorang yang di kampungnya dikenal santun, religius, dan suka menolong, ketika memegang jabatan publik tidak malu, bahkan tega, menyalahgunakan kekuasaan? 


Krisis Etika Birokrasi


Kearifan lokal bisa bertahan lama karena dijaga bersama-sama oleh warga masyarakatnya yang saling mengenal secara langsung antara satu terhadap yang lain. Di desa orang takut mencuri ayam tetangga karena takut sangsi sosial yang datang dari lingkungannya. Jika ada orang yang dikenal suka berbohong, mencuri, atau mengingkari janji, sangsi sosialnya langsung dirasakan. Rasa kedekatan dan kekeluargaaan warga desa juga ikut menghalangi seseorang untuk tidak menyakiti dan merugikan yang lain. Dalam komunitas tradisional, seorang kepala desa, tokoh adat, atau pemimpin masyarakat yang pertama dinilai adalah integritas dan keteladanannya. Bukan jabatan formal, titelnya dan kekayaannya. 


Tetapi ketika seseorang masuk dunia kerja yang birokratis, bangunan kearifan lokal itu seakan tercampakkan. Banyak putra daerah setelah jadi sarjana lalu menempuh karir di ranah politik dan birokrasi pemerintahan perilaku dan pandangan hidupnya berubah drastis. Dia masuk dalam lingkungan baru yang diatur oleh struktur kekuasaan, proyek, dan tersedia anggaran yang sangat besar, yang tidak terbayangkan oleh warga daerah. Dalam lingkungan birokrasi, yang dijumpai bukan lagi lagi tetangga, kerabat, atau tokoh adat. Hubungan sosial yang terbangun berubah menjadi formal dan impersonal. Bahkan saling menjegal dan menikam untuk memperbutkan jabatan dan proyek. 


Ketika pulang kampung, para pejabat yang suka melakukan korupsi itu pasti berpenampilan santun, baik hati, ringan membantu tetangga. Di samping karena sudah kaya, dia takut sangsi sosial dan malu bertatap muka dengan wajah orang yang dirugikan kalau saja bertindak melanggar norma sosial. Sikap dan suasana batin demikian berbeda sekali ketika koruptor mengambil miliaran rupiah dari anggaran negara tanpa pernah melihat langsung wajah rakyat yang kehilangan haknya. Bagi mereka, secara psikologis anggaran negara itu bukan milik rakyat. Jarak psikologis inilah yang sering kali menjadi penyebab awal pudarnya moral yang berakar pada kearifan lokal. Melakukan korupsi di lingkungan birokrasi terasa lebih mudah dan ringan dilakukan karena korban yang dirugikan tidak hadir secara konkret di depan mata. Sementara itu uang negara yang ditilap dirasakan langsung wujud dan manfaatnya dan bisa disembunyikan dengan berbagai cara. Bagi koruptor kelas kakap, uang bisa disimpan di Bank Singapora, negara tetangga terdekat yang tidak mudah dilacak.


Moralitas komunal mengajarkan kesetiaan kepada keluarga, kelompok, suku dan komunitas. Etika birokrasi menuntut pemahaman dan penghayatan untuk setia dan menjaga bersama kepentingan publik yang lebih luas. Seseorang yang sangat jujur dan setia kepada keluarganya, bisa jadi tidak merasa bersalah ketika memberikan proyek negara kepada saudaranya atau tetangga sekampungnya. Di sini terdapat wilayah abu-abu yang mengantarkan munculnya nepotisme dan primordialisme karena kegagalan kita semua melakukan transformasi kearifan lokal ke dalam sistim dan etika birokrasi moderen. Konsep gotong royong yang aslinya bagus, saling bantu-membantu, lalu berubah menjadi praktek nepotisme. Lebih dari itu, diduga kuat, korupsi yang dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan orang kuat, tidak mudah ditangkap karena akan memberikan perlindungan ketika terkena urusan hukum. Nilai gotong-royong dan solidaritas berubah menjadi kolusi. Kalau toh ketahuan yang dikurbankan biasanya staf bawahannya. Yang juga sering kita lihat, korupsi yang melibatkan pejabat tinggi negara proses penyelesaiannya tidak tuntas dan tidak transparan sehingga kepercayaan rakyat terhadap institusi penegak hukum menurun, bahkan hilang.  


Kelemahan Sistim birokrasi


Korupsi terjadi tidak semata karena pelakunya memiliki kelemahan moral, melainkan didorong oleh terbukanya peluang, insentif, pembenaran dari lingkungannya dan lembeknya aparat penegak hukum. Birokrasi pelat-merah memiliki tiga sumber utama yang membuka lebar pintu korupsi. Pertama, pejabat memiliki kewenangan menentukan anggaran, proyek, izin, jabatan, dan kebijakan. Kekuasaan yang besar semacam ini selalu mengandung dan mengundang potensi penyalahgunaan. Kedua, adanya jarak antara keputusan dan eksekusinya. Seorang pejabat yang menandatangani proyek fiktif di belakang meja mungkin tidak langsung melihat rumah rakyat yang tidak dibangun, sekolah yang tidak diperbaiki, atau pasien yang tidak tertolong. Penipuan dan kerugian negara tidak langsung terlihat karena mata rantai birokrasi, sementara keuntungan pribadi sangat menggoda di depan mata, bersifat konkret dan langsung dirasakan. Ketiga, normalisasi korupsi. Seakan korupsi telah membudaya, menjadi hal yang lumrah. Kepekaan moral dan keteladanan di kalangan pejabat semakin tumpul dan redup.


Ketika lingkungan birokrasi telah menganggap suap, gratifikasi, komisi, dan permainan anggaran sebagai sesuatu yang biasa, individu yang semula moralis dan idealis pun dapat mengalami tekanan untuk menyesuaikan diri agar posisinya tidak terpelanting. Syukur-syukur malah mudah mendapatkan promosi. Pendidikan keluarga dan kearifan lokal yang ditanamkan sejak kecil agar tidak mengambil barang yang bukan haknya telah menguap tak berbekas. Dalam istilah psikologi hal ini disebut moral disengagement. Orang mencari pembenaran atas perbuatannya, misalnya: Kalau saya tidak ikut, saya akan tersingkir. Kalau saya tersingkir keluarga saya berantakan. Logika semu pembenaran telah membunuh kebenaran.


Saya bertemu beberapa teman yang masih idealis. Terjadi konflik batin antara pendidikan yang diterima sejak kecil dan di bangku kuliah dengan lingkungan sosial barunya setelah memasuki dunia kerja. Muncul pertanyaan yang selalu meneror batinnya: Apakah kejujuran masih relevan jika ketidakjujuran justru membawa keberhasilan? Apakah rejeki yang haram akan mendatangkan berkah dalam kehidupan keluarga? Persoalan bangsa ini bukan kekurangan nilai. Dalam masyaratakat tradisional dan kehidupan keluarga nilai-nilai luhur itu masih hidup. Tetapi kekurangan yang paling kita rasakan adalah kekurangan tokoh-tokoh teladan, lembeknya penegakan hukum, dan kegagalan pemerintah dalam mengintegrasikan nilai lokal yang bagus-bagus itu ke dalam kehidupan bernegara. Pemerintah gagal melakukan transformasi dari local wisdom menjadi civic wisdom. Dari etika komunal ke etika struktural.


 Harus disadari bahwa seorang pejabat tidak hanya dituntut menjadi orang baik dalam kehidupan pribadinya, tetapi juga harus mampu menjadi tauladan, berani menolak konflik kepentingan, menjaga transparansi dan berani melawan tekanan kelompok yang merusak sistim meritokrasi. Para pejabat pemerintah mesti kuat-kuat memegang prinsip bahwa jabatan bukan fasilitas untuk memperkaya diri, melainkan tanggung jawab dan panggilan tugas mulia untuk melayani rakyat.


Korupsi yang dilakukan putra daerah bukanlah bukti bahwa kearifan lokal gagal. Melainkan warisan moral tersebut belum berhasil ditransformasikan ke dalam sistim dan budaya birokrasi pemerintah agar nilai-nilai budi pekerti itu mampu bertahan di pusat kekuasaan. Saat ini salah satu sumber korupsi datang dari ongkos politik yang teramat mahal yang melahirkan budaya politik transaksional.


Pergantian Orde Dengan Marah


Ada pandangan, usia sebuah orde politik itu berkisar 20-25 tahun, ekuivalen dengan usia sebuah generasi. Seorang anak ketika masuk usia 25 tahun umumnya sudah sarjana dan dianggap dewasa, mesti berani membangun kehidupannnya sendiri. Dalam perjalanan sejarah Indonesia, ini bisa dihitung ke belakang dimulai tahun 1908 lahirnya gerakan Boedi Oetomo, menandai kesadaran bangkitnya pribumi yang terpelajar. Lalu tahun 1928 terjadi peristiwa Sumpah Pemuda. Tahun 1945 cita-cita Sumpah Pemuda diperkuat dengan proklamasi kemerdekaan. Begitu merdeka, agenda besar yang dihadapi Presiden Soekarno adalah nation building, melakukan konsolidasi menyatukan sekian banyak kekuatan kelompok yang mewakili etnis, agama, dan ideologi. Agenda ini tidak berjalan mulus, sehingga tahun 1965 meletus tragedi nasional yang populer disebut Gestapu dan menandai berakhirnya Orde Lama. 


Orde Lama diakhiri dengan kemarahan rakyat. Korupsi dan inflasi seakan berlomba adu cepat. Mulailah Orde Baru dengan penekanan state building. Stabilitas memperoleh prioritas sebagai syarat pembangunan jangka panjang. Tapi lagi-lagi, Pak Harto yang memegang kendali orde baru mesti mengundurkan diri karena desakan rakyat pada 21 Mei 1998. Orde baru diakhiri dengan kemarahan rakyat. Setelah itu berganti-ganti presiden bertugas meratakan jalan baru yang disebut orde reformasi. Sebagai kritik terhadap sentralisasi kekuasaan selama orde baru maka DPR menetapkan desentralisasi kekuasaan. Pimpinan daerah dipilih langsung oleh rakyat, bukannya ditetapkan oleh Pusat. Masa jabatan presiden dibatasi maksimal dua periode. Tentara kembali ke barak, tidak boleh bermain politik praktis.


Pemilu 2004 menandai babak baru orde reformasi yang berusaha memperbaiki praktek demokrasi. Naiknya Presiden SBY merupakan hasil pemilihan umum yang dipilih rakyat secara langsung. Memasuki tahun 2026 ini, dengan melihat pengalaman masa lalu, memang sudah saatnya orde reformasi berakhir. Rakyat letih dan marah terhadap praktek korupsi yang semakin ugal-ugalan jumlah uyang yang dikorup. Lagi-lagi, setelah 20 tahunan orde reformasi, ibarat mobill, jalannya sudah sempoyongan, tidak lagi stabil. Mesti ganti orde, entah apa namanya. Yang pasti kesalahan dan kejahatan masa lalu selalu saja terulang kembali. Yaitu korupsi. Sikap pejabat negara yang lebih mementingkan diri dan kelompoknya, bukan mengutamnakan kepentingan dan pelayanan terhadap rakyat.


Masyarakat Indonesia itu terlalu besar. Sebuah beban bagi pemerintah dan negara. Tetapi sekaligus aset moral dan budaya. Ketika nilai-nilai luhur rusak di tangan pejabat negara dan partai politik, nilai-nilai itu masih dijaga oleh masyarakat dalam kehidupan sosial mereka sehari-hari. Jangan sampai kearifan lokal tergerus rusak karena pengaruh dari atas. (RED).

Share:

Atasi Dampak Karhutla, SKK Migas dan Medco E&P Salurkan Ribuan Kotak Masker ke 14 Desa di Muba


 *Atasi Dampak Karhutla, SKK Migas dan Medco E&P Salurkan Ribuan Kotak Masker ke 14 Desa di Muba*


Muba, Sumsel. SININEWS.COM –  SKK Migas dan Medco E&P Grissik Ltd (Medco E&P) mendukung upaya Pemerintah dalam menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Dukungan dilaksanakan lewat program Medco E&P Peduli dengan menyalurkan 2.800 kotak masker serta bantuan Pemberian Makanan Tambahan berupa susu bagi masyarakat di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). 


Bersama Plantari Institute, bantuan tersebut disalurkan bertahap pada 6–8 Oktober di 14 desa. Bantuan masker menjangkau Desa Babat Ramba Jaya, Supat, Letang, Sukamaju, Pangkalan Tungkal, Tri Tunggal, Mangsang, Simpang Tungkal, Berlian Jaya, Sumpal, Dayung, Lubuk Bintialo, Macang Sakti, dan Talang Buluh. Sementara itu, bantuan susu didistribusikan melalui posyandu.  


Proses penyaluran melibatkan pemangku kepentingan setempat di sejumlah titik, termasuk kantor desa, posyandu, rumah local champion, dan fasilitas kesehatan masyarakat. Kabut asap akibat karhutla dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.  



Senior Manager Communication Medco E&P, Leony Lervyn, mengatakan bahwa kepedulian pada masyarakat merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung penanganan dampak karhutla.


“Melalui program Medco Peduli, kami berupaya mendukung langkah pemerintah dalam membantu masyarakat menghadapi dampak karhutla. Kami berharap bantuan ini dapat bermanfaat bagi warga yang membutuhkan. Kolaborasi dengan para pemangku kepentingan setempat juga menjadi bagian penting untuk mendukung penyaluran bantuan kepada masyarakat,” ujar Leony. 


Melalui program Medco Peduli, Medco E&P Grissik Ltd bersama mitra lokal terus mendukung masyarakat di sekitar wilayah operasi. Ketua Karang Taruna Desa Lubuk Bintialo, Pahrun, mengapresiasi bantuan yang diberikan pada masyarakat.


“Terima kasih kepada Medco E&P atas bantuan ini. Di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan di desa, bantuan masker ini sangat bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.(sn)

Share:

Tampil Memukau di Sirkuit Skyland Sekayu, Lazio Raditya Putra Bungsu Alm. Andre Sairi Raih Juara 2 Mini GP Sumatera Cup Prix

Tampil Memukau di Sirkuit Skyland Sekayu, Lazio Raditya Putra Bungsu Alm. Andre Sairi Raih Juara 2 Mini GP Sumatera Cup Prix


SEKAYU –SiniNews.Com- Pebalap cilik bertalenta asal kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir PALI - SUMSEL, Lazio Raditya, kembali mencatatkan prestasi gemilang di arena balap nasional. Putra bungsu dari almarhum Andre Sairi ini sukses mengamankan Juara 2 di Kelas Mini GP pada ajang bergengsi Sumatera Cup Prix (SCP) yang berlangsung di Sirkuit Skyland, Sekayu, Musi Banyuasin.


Tampil membela panji AIS Group Racing Team H. Edwin, si bungsu AIS Group ini menunjukkan aksi impresif sejak babak kualifikasi hingga bendera finish dikibarkan. Persaingan sengit di lintasan tidak surutkan mental bertanding pebalap muda ini dalam menaklukkan tikungan demi tikungan di sirkuit kebanggaan masyarakat Musi Banyuasin tersebut.


Keberhasilan Lazio mengamankan podium kedua ini menjadi momen emosional sekaligus membanggakan. Sebagai putra bungsu dari sosok almarhum Andre Sairi—nama yang tidak asing di dunia otomotif—Lazio membuktikan bahwa bakat dan semangat juang sang ayah mengalir deras dalam dirinya.


Dukungan penuh dari AIS Group dan pimpinan tim, H. Edwin, menjadi kunci solidnya performa tim sepanjang akhir pekan kompetisi.


"Hasil ini merupakan buah dari kerja keras seluruh tim AIS Group Racing Team dan kegigihan Lazio di lintasan. Kami sangat bangga dengan pencapaian podium kedua ini dan akan terus mendukung tumbuh kembang bakat Lazio di ajang-ajang berikutnya," ujar perwakilan manajemen tim.


Dengan hasil positif di Sirkuit Skyland Sekayu ini, Lazio Raditya bersama AIS Group Racing Team H. Edwin makin optimistis menatap putaran-putaran selanjutnya di ajang balap tingkat daerah maupun nasional.(SN/Perry).

Share:

Jalan Talang Ojan–Sukamaju Amblas, Polsek Talang Ubi Imbau Pengendara Waspada

Jalan Talang Ojan–Sukamaju Amblas, Polsek Talang Ubi Imbau Pengendara Waspada


PALI-SiniNews.Com –Personel Polsek Talang Ubi melakukan pemantauan terhadap kondisi jalan lintas Talang Ojan menuju Desa Sukamaju, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Minggu (11/10/2026) sekitar pukul 12.00 WIB.


Pemantauan dilakukan menyusul kerusakan parah pada badan jalan yang mengalami amblas dan jebol hingga membentuk lubang besar di bagian tengah jalan. Kondisi tersebut berpotensi membahayakan pengguna jalan serta mengganggu kelancaran akses transportasi masyarakat.


Berdasarkan hasil pemantauan di lokasi, kerusakan terlihat cukup serius. Sebagian badan jalan mengalami pecah dan terangkat, disertai retakan di sekitar titik kerusakan. Sebagai langkah peringatan awal, lokasi tersebut telah diberi pembatas menggunakan pita pengaman berwarna hitam-kuning dan penyangga kayu.


Informasi awal dari warga setempat menyebutkan bahwa kerusakan jalan diketahui terjadi setelah dilintasi truk bermuatan batu. Namun, informasi tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti amblas dan jebolnya badan jalan.


Kapolsek Talang Ubi, AKP Ardiansyah, S.H., mengatakan bahwa pemantauan dilakukan sebagai bentuk kepedulian kepolisian terhadap keselamatan masyarakat, khususnya pengguna jalan yang melintasi jalur tersebut.


“Kami mengimbau kepada seluruh pengguna jalan agar meningkatkan kewaspadaan saat melintas di lokasi, mengurangi kecepatan, serta tidak memaksakan diri apabila kondisi jalan dinilai tidak aman. Keselamatan masyarakat harus menjadi perhatian bersama,” ujar AKP Ardiansyah.


Ia juga menekankan pentingnya koordinasi dengan pemerintah desa dan instansi terkait agar kerusakan jalan tersebut segera mendapatkan penanganan, sehingga tidak menimbulkan korban maupun menghambat aktivitas masyarakat.


Menurutnya, kondisi jalan yang mengalami kerusakan cukup parah perlu mendapat perhatian serius, terutama apabila masih dilalui kendaraan berat. Pemeriksaan teknis diperlukan untuk mengetahui penyebab kerusakan sekaligus menentukan langkah perbaikan yang tepat.


Polsek Talang Ubi juga mendorong agar dilakukan pengamanan tambahan dan pemasangan rambu peringatan yang memadai di sekitar lokasi. Langkah tersebut penting untuk mengantisipasi kecelakaan, terutama pada malam hari atau saat hujan ketika jarak pandang pengendara terbatas.


Melalui pemantauan ini, Polsek Talang Ubi berharap instansi terkait dapat segera melakukan pengecekan dan penanganan darurat terhadap badan jalan yang amblas dan jebol tersebut.


Kepolisian juga mengingatkan masyarakat agar selalu berhati-hati, mematuhi tanda peringatan di lokasi, serta segera melaporkan apabila ditemukan kondisi jalan yang berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan lainnya.(SN/Perry).

Share:

Cegah Kebakaran Sejak Dini, Polsek Tanah Abang Sambangi Warga Desa Lunas Jaya

Cegah Kebakaran Sejak Dini, Polsek Tanah Abang Sambangi Warga Desa Lunas Jaya



PALI-SiniNews.Com– Dalam upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Polsek Tanah Abang melaksanakan kegiatan sosialisasi dan patroli larangan membuka lahan atau kebun dengan cara dibakar di Desa Lunas Jaya, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sabtu (11/10/2026).


Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 11.10 WIB tersebut dilaksanakan oleh personel Polsek Tanah Abang yang diwakili Bripka Wahyu Kurniawan, dengan menyampaikan imbauan secara langsung kepada masyarakat setempat.


Dalam sosialisasi tersebut, warga diingatkan agar tidak membuka lahan atau kebun dengan cara membakar, terlebih saat memasuki musim kemarau karena berpotensi memicu kebakaran yang dapat meluas dan membahayakan lingkungan maupun masyarakat.


Personel juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan cara-cara yang lebih aman dan produktif dalam mengelola lahan. Salah satunya dengan memanfaatkan pohon karet yang sudah tua untuk ditebang dan dijual sehingga dapat memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga tanpa harus melakukan pembakaran.


Kapolsek Tanah Abang, AKP Arzuan, S.H., mengatakan bahwa upaya pencegahan karhutla membutuhkan kesadaran dan peran aktif seluruh lapisan masyarakat.


“Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan atau kebun dengan cara dibakar. Selain berpotensi menyebabkan kebakaran yang meluas, tindakan tersebut juga dapat menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan dan keselamatan masyarakat. Kami mengajak warga untuk mengelola lahan dengan cara yang aman serta tidak melanggar ketentuan hukum yang berlaku,” ujar AKP Arzuan.


Ia juga menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami konsekuensi hukum dari pembakaran lahan, sehingga diharapkan tidak melakukan tindakan yang dapat memicu terjadinya karhutla.


Kegiatan sosialisasi dan patroli tersebut berakhir sekitar pukul 12.20 WIB. Selama pelaksanaan, kegiatan berlangsung aman, lancar, dan kondusif.


Melalui kegiatan ini, Polsek Tanah Abang berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya karhutla semakin meningkat serta tercipta lingkungan yang aman dan terhindar dari kebakaran hutan maupun lahan di wilayah Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten PALI.(SN/Perry).

Share:

Polsek Penukal Utara Edukasi Warga Tempirai Utara tentang Bahaya Pembakaran Lahan

 Polsek Penukal Utara Edukasi Warga Tempirai Utara tentang Bahaya Pembakaran Lahan


PALI-SiniNews.Com – Dalam upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Polsek Penukal Utara terus mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat terkait larangan membuka lahan atau kebun dengan cara dibakar.


Kali ini, kegiatan sosialisasi dilaksanakan di Desa Tempirai Utara, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), pada Minggu (11/10/2026), sekitar pukul 10.00 WIB.


Kapolsek Penukal Utara IPTU Budi Anhar, S.H., M.Si., C.I.I., C.B., Med., bersama Bhabinkamtibmas menyampaikan imbauan kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran saat membuka atau membersihkan lahan perkebunan, terlebih di tengah kondisi musim kemarau yang meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.


Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat juga diajak memanfaatkan cara-cara yang lebih aman dan produktif dalam mengelola kebun. Salah satunya dengan memanfaatkan pohon karet yang sudah tua untuk ditebang dan dijual sehingga dapat memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga tanpa harus membakar lahan.


Kapolsek Penukal Utara IPTU Budi Anhar mengatakan, kesadaran masyarakat menjadi salah satu kunci penting dalam mencegah terjadinya karhutla. Karena itu, pihaknya terus mengingatkan warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.


“Kami mengimbau seluruh masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dan kebun dengan cara dibakar. Selain berisiko menimbulkan kebakaran yang dapat meluas, tindakan tersebut juga dapat menimbulkan dampak bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Kami mengajak warga untuk memilih cara yang lebih aman dan tidak merugikan orang lain,” ujar IPTU Budi Anhar.


Ia juga mengingatkan bahwa pembukaan lahan dengan cara membakar dapat menimbulkan konsekuensi hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.


Menurutnya, upaya pencegahan karhutla membutuhkan kerja sama semua pihak, mulai dari kepolisian, pemerintah desa hingga masyarakat. Dengan kepedulian dan kesadaran bersama, potensi kebakaran lahan di wilayah Kecamatan Penukal Utara diharapkan dapat diminimalkan.


Kegiatan sosialisasi yang berlangsung hingga pukul 11.00 WIB tersebut berjalan aman, lancar, dan kondusif.


Polsek Penukal Utara berharap masyarakat semakin memahami bahaya pembakaran lahan serta turut berperan aktif menjaga lingkungan agar tetap aman dari ancaman karhutla.(SN/Perry).

Share:

Youtube SiniNews

Facebook SINI News

Followers

Subscribers

Postingan Populer

Blog Archive

Comments

Berita Utama

sitemap

Recent Posts