Buruh Tuntut Terbitkan Perda Pekerja Lokal

MUARA ENIM -- Ratusan buruh yang tergabung dalam Federasi Serikat Buruh Bersatu Muara Enim (F-SBBM)  mendatangi kediaman dinas Bupati Muara Enim guna mempringati hari buruh atau Mayday di Balai Agung Serasan Sekundang (Bass), Rabu (1/5).

Dalam pertemuan dengan orang nomor satu di Bumi Serasan Sekundang, para buruh sepakat mendesak Bupati supaya segera menerbitkan peraturan daerah (Perda) pekerja lokal.

Ketua F-SBBM, Rahmansyah mengatakan pada peringatan mayday tahun ini total ada 4 pernyataan sikap yang disampaikan kepada pemerintah kabupaten Muara Enim. Diantaranya meminta Bupati menerbitkan perda tentang mengutamakan pekerja lokal.

"Tuntutan ini sesuai dengan isu berkembang sekarang, bahwa keberadaan buruh lokal tergusur oleh pekerja asing, kami minta pemkab Muara Enim bertindak tegas mengatasi isu ini dengan menerbitkan Perda,"kata Rahmansyah.

Menurut dia, hadirnya perda tersebut memperkuat hak-hak warga disini dalam memperoleh pekerjaan. Selain itu didalam perda nanti diharap dapat menjelaskan kriteria apa saja bagi perusahaan untuk merekrut pekerja asing.

"Kami ingin ada kriteria yang harus dipenuhi setiap perusahaan yang ingin merekrut tenaga asing, jangan sampai para pekerja asing diberi pekerjaan bersifat umum bukan teknis yang memang memperlukan keahlian khusus dari luar,"ungkapnya.

Selain itu, para buruh lanjutnya juga sepakat meminta Pemkab memberikan sanksi tegas terhadap perusahaan pelanggar terhadap hak normatif buruh.  Meminta Pemkab menetapkan upah minimum sektoral Kabupaten setiap tahunnya.

"Terakhir kami juga meminta Pemkab bersama BUMN dan BUMD bersinergi menciptakan pelatihan terhadap SDM-SDM lokal utamanya sektor tambang batubara, minyak dan gas,"paparnya.

Sementara Bupati Muara Enim Ir H Ahmad Yani mengapresiasi peringatan mayday di Kabupaten Muara Enim yang berlangsung kondusif. "Peringatan mayday menjadi momentum bagi pemkab Muara Enim untuk melindungi para pekerja supaya mendapatkan hak-haknya,"tegas Bupati.

Terkait tuntutan buruh, Bupati menegaskan akan mengakomdir dengan segera menerbitkan perda perlindungan pekerja lokal.
"Perda akan segera digodok untuk diterbitkan, diharap perda ini nanti dapat mengutamakan pekerja lokal mendapatkan pekerjaan,"ujarnya.

Lanjutnya, Pemkab dalam waktu dekat akan menggelar pelatihan bagi pekerja supaya dapat bersaing dan siap pakai. "Pelatihan ini untuk meningkatkan skil, agar pekerja lokal bukan lagi dominan tenaga umum melainkan tenaga teknis,"pungkasnya.
Share:

Harga Karet di PALI Mulai Merangkak Naik

PALI--Tanda-tanda akan membaiknya harga getah karet sudah mulai terlihat, sebab dalam dua pekan terakhir ini harga getah karet kualitas mingguan terus merangkak naik dari harga sebelumnya yang hanya dibawah angka Rp 7.000/kg, pada Selasa (30/4) terpantau harga getah karet di Bumi Serepat Serasan menembus angka Rp 8.000/kg.

Tentu kondisi ini menambah semangat para petani yang telah lama menunggu akan naiknya harga komoditi yang digelutinya.

Seperti diutarakan Dedi (38) petani asal Desa Persiapan Jerambah Besi Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Dia tersenyum kala getah karet hasil sadapannya dihargai pembeli Rp 8.000/kg.

"Kami berharap akan naik lagi untuk mengimbangi harga kebutuhan pokok. Karena untuk harga Rp 8.000/kg, belum sebanding dengan harga beras yang saat ini dikisaran Rp 10.000/kg," ungkap Dedi.

Keinginan samapun diutarakan Nasar, petani asal Talang Ubi yang biasa menjual hasil sadapannya setiap minggu. Dirinya mengharapkan harga karet seimbang dengan harga bahan pangan.

"Percuma kalau harga getah naik sedikit, tetapi harga pangan melonjak jauh apalagi jelang puasa ini. Karena kami tidak ada penghasilan lain, kami hanya bergantung pada harga karet," ucapnya.

Terpisah, Amran, pembeli getah karet di pasar getah Desa Jerambah Besi menyebut bahwa saat ini pabrik memang telah menaikan harga getah, tetapi angkanya sangat tipis.

"Masih belim signifikan untuk angka kenaikannya. Tetapi kami beli sudah bersaing dengan pembeli lain untuk dapatkan getah petani. Namun, untuk pembelian, tergantung dari kualitas getah petani. Kalau getah bersih dan keras, otomatis harga tinggi," katanya
Share:

Seni Tanjidor PALI Tampil di Ibu Kota

PALI--Untuk pertama kalinya, seni Tanjidor khas Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) asal Desa Spantan Jaya Kecamatan Penukal tampil di Hotel Ciputra Jakarta Selatan pada Senin (29/4), dalam rangka undangan dari Kementerian Pariwisata, Seni dan Budaya.

Tak pelak, penampilan seni Tanjidor memukau penonton yang hadir, ditambah tarian apik Burung Putih yang menambah tatapan penonton semakin terpana, tepuk tangan pun bergemuruh saat penampilan tari khas PALI itu berakhir.

Dikatakan Alamsri, Kepala Desa Spantan Jaya bahwa kedatangan tim seni Tanjidor dalam rangka ikuti whork shoop yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata, seni dan budaya RI.

"Kegiatan whork shoop dibuka pada Senin sampai dengan hari Jumat. Alhamdulillah, pada penampilan anak-anak dari PALI, banyak penonton kagum dan banyak bertanya letak wilayah PALI dimana karena penonton baru kali pertama menyaksikan tari Burung Putih," ucap Kades, Selasa (30/4).

Terpisah, Aka Cholik Darlin, ketua Dewan Kesenian Kabupaten PALI memberikan apresiasi terhadap pelaku seni asal Desa Spantan yang telah mengenalkan budaya PALI dikancah nasional.

"Ini berkat peran Bupati PALI yang serius mengembangkan budaya khas PALI. Karena mengenalkan suatu daerah salahsatunya melalui kesenian," kata Aka Cholik.

Kedepannya diharapkan Aka Cholik, pemerintah memberikan bantuan berupa fasilitas atau alat kesenian yang diperlukan.

"Menganggarkan untuk setiap kesenian yang dikelola beberapa sanggar seni agar lebih berkembang lagi dan memelihara serta menggali kembali budaya atau seni yang menjadi ciri khas daerah ini supaya PALI mempunyai jati diri kesenian yang benar-benar tidak dimiliki daerah lain," tandasnya. (sn)
Share:

Merasa Dicurangi, Caleg Dapil I Ramai Ramai Datangi Bawaslu Minta PSU

MUARA ENIM - Karena merasa adanya kecurangan pada Pileg 17 April lalu, Tujuh orang calon legislatif (Caleg) Daerah Pemilihan (Dapil) 1 Kabupaten Muara Enim, Senin (29/4) mendatangi Sekretariat Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Muara Enim.

Dalam laporan yang diterima oleh dua Staf Penindakan Pelanggaran Bawaslu Muara Enim Firmansyah Putra dan Arif. Mereka menuntut dua hal, pertama meminta kepada Bawaslu Kabupaten Muara Enim untuk merekomendasikan diadakannya Pemungutan Suara Ulang (PSU) di seluruh kecamatan dapil 1 Kabupaten Muara Enim.

Ketujuh Caleg yang datang melapor antara lain Iswanto (PDI-P), Yones Tober (PKS), M Zen Sukri (Gerindra), Lukman (Perindo), Syaiful Bahri (PKB), M Napeleon (PPP), dan Deni Kristian (Bekarya) yang merupakan Caleg dari dapil I.

Kedua, mereka juga menuntut untuk menunda atau menghentikan rapat pleno KPU di Kabupaten Muara Enim yang sudah terjadwal pada hari ini Senin, (29/4).

“Kecurangan yang kami laporkan, seperti temuan C1 yang tidak sesuai dengan perolehan jumlah suara yang sebenarnya. Hal ini dari berbagai macam sumber di tiap-tiap TPS se-dapil 1, dan dari berbagai macam partai terdapat indikasi mencurigakan untuk memenangkan caleg-caleg tertentu,” kata Iswanto didampingi Yones Tober dan M Zen Sukri.

Menurut mereka, hal tersebut terjadi hampir di semua kecamatan pada dapil 1 Kabupaten Muara Enim. “Bahkan juga waktu pleno PPK Gunung Megang, Belimbing, Benakat, Ujan Mas dan Muara Enim kotak suara tidak dibuka di depan saksi-saksi, ini diindikasikan kotak tersebut sudah terbuka, tidak tersegel lagi,” sebut mereka.

Maka sesuai Undang-undang No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu pada Pasal 372 Ayat 2 Huruf A yang berbunyi pembukaan kotak suara dan atau berkas pemungutan dan perhitungan suara tidak dilakukan menurut tata cara yang ditetapkan dalam kententuan peraturan perundangan-undangan, mereka pun menuntut dua hal.

“Untuk itu kami minta PSU dan menghentikan rapat pleno KPU di Kabupaten Muara Enim sebelum adanya tindakan dan respon hasil dari laporan yang kami ajukan hari ini,”harapnya.
Share:

Hampir Sepekan 10 Desa di PALI Terendam Banjir

PALI--Banjir yang melanda wilayah Bumi Serepat Serasan lebih dari tiga hari ini meluas. Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), tercatat ada 10 desa yang terimbas banjir akibat meluapnya sungai Lematang yang tidak lagi mampu menampung air hujan.

Adapun 10 desa dimaksud dijelaskan Junaidi Anuar, kepala BPBD PALI adalah Desa Bumi Ayu, Tanah Abang Selatan, Tanah Abang Utara, Muara Sungai, Curup, Sukaraja, Sedupi, Pandan dan Modong, dimana seluruh desa tersebut masuk wilayah Kecamatan Tanah Abang.

"Untuk saat ini dari pantauan kita, banjir yang melanda 10 desa masih aman dan terkendali. Belum dikategorikan sebagai bencana. Banjir itu merupakan banjir tahunan dan kiriman dari hulu sungai Lematang," terang Junaidi, Senin (29/4).

Diakui Junaidi bahwa pihaknya terus memantau disekitar lokasi banjir. "Daerah yang terdampak banjir merupakan daerah berlokasi tidak jauh dari bantaran sungai Lematang. Ada ribuan rumah yang terendam, tetapi rumah yang terendam seluruhnya berbentuk panggung. Jadi, masih aman hanya saja memang sedikit menghambat aktivitas warga setempat," tukasnya.

Terpisah, Ballian, kepala Desa Curup mengatakan bahwa ratusan rumah di desanya terdampak banjir, karena lebih separuh pemukiman warga di desa itu terendam.

"Sudah tiga hari ini banjir belum juga surut. Kalau tanaman padi warga dipastikan mati dan warga yang kebunnya terkena banjir juga tidak bisa menyadap," kata Kades.
Share:

PWI Sumsel Imbau Wartawan Dinginkan Suhu Politik

PALI--Firdaus Komar, ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Selatan menghimbau agar seluruh wartawan yang tergabung di PWI agar ikut menjernihkan suasana politik pasca Pemilihan Umum (Pemilu) yang saat diketahui suhunya meningkat.

Terlebih dikatakan Firdaus Komar bahwa berita hoaks berseliweran di media sosial yang tentunya fungsi wartawan dituntut meluruskan suatu informasi dengan verifikasi dan sesuai kode etik jurnalistik.

"Fungsi wartawan turut mencegah hoaks, jangan ikut-ikutan menyebarkannya. Apabila ada berita yang masih simpang siur, silahkan verifikasi dan berpegang teguh pada standar jurnalistik," pesan Ketua PWI Sumsel usai hadiri pembukaan kegiatan UKW di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Senin (29/4), di Wisma Mayang Komplek Pertamina Pendopo.

Ditambahkannya bahwa wartawan tetap menjaga netralitas meskipun Pemilu telah usai.

"Tarik menarik panasnya politik harus kita sikapi dengan alur kita sebagai jurnalis yang harus berada pada profesi kita. Dan jurnalis juga harus memberikan contoh bahwa informasi kita yang kita sampaikan memang benar sesuai fakta,  akurat dan tepat," tandasnya.

Menyinggung kegiatan UKW yang digelar di PALI, Firdaus menegaskan bahwa UKW sangat penting bagi pelaku jurnalis untuk meningkatkan profesionalitas wartawan.

"UKW menjadi tolak ukur seorang wartawan untuk lebih meningkatkan kinerjanya. Karena wartawan adalah profesi yang dituntut harus profesional, jangan hanya bermodalkan alat perekam dan kartu identitas saja, tetapi wartawan juga harus mempu membuat dan mengolah berita," tukasnya

Sementara itu, Theo Yusuf Tim penguji PWI pusat menyebut sudah ada 10.700 wartawan diseluruh Indonesia sudah berkompeten melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW).

"PWI telah menggelar 393 kali UKW di berbagai wilayah, termasuk di Sumsel yang telah menggelar 23 kali UKW. Dari jumlah anggota PWI 15 ribu lebih, sudah ada 10.700 wartawan yang telah dinyatakan kompeten," terang Theo
Share:

PWI Sebut 10.700 wartawan di Indonesia Sudah Berkompeten

PALI-- Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) melalui Theo Yusuf Tim penguji PWI pusat menyebut sudah ada 10.700 wartawan diseluruh Indonesia sudah berkompeten melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW).

Informasi tersebut disampaikan Theo saat sambangi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) untuk menguji 18 awak media dari berbagai media masa yang bekerja di wilayah PALI yang ikuti UKW, Senin (29/4) di Wisma Mayang Komplek Pertamina Pendopo.

"PWI telah menggelar 393 kali UKW di berbagai wilayah, termasuk di Sumsel yang telah menggelar 23 kali UKW. Dari jumlah anggota PWI 15 ribu lebih, sudah ada 10.700 wartawan yang telah dinyatakan kompeten," terang Theo.

Disamping menjelaskan jumlah wartawan yang telah berkompeten, Theo juga menerangkan pentingnya awak media ikuti UKW.

"UKW menjadi tolak ukur seorang wartawan untuk lebih meningkatkan kinerjanya. Karena wartawan adalah profesi yang dituntut harus profesional, jangan hanya bermodalkan alat perekam dan kartu identitas saja, tetapi wartawan juga harus mempu membuat dan mengolah berita," tukasnya.
Share:

Amankan Senpi, Polsek Rambang Dangku ringkus Warga Prabumulih

MUARA ENIM--Polsek Rambang Dangku berhasil mengamankan Suparman (40) warga tanjung raman Prabumulih atas kepemilikan senjata api rakitan berikut sebuah amunisinya.  Dari tubuhnya juga ditemukan  mata kunci T.

Penangkapan tersangka berawal dari petugas Polsek Rambang Dangku melaksanakan KKYD (Kegiatan Kepolisian Yang Ditingkatkan) pada Sabtu (27/4) sekitar pukul 19.30 WIB. Di jalan cor Desa Kasih Dewa Kecamatan Rambang Dangku gerak gerik pengendara sepeda motor.

Motor yang ditumpangi tersangka di berhentikan namun pengendara melarikan diri, sementara tersangka yang juga berusaha berlari berhasil diamankan. Saat dilakukan penggeledahan ditemukan sepucuk senpita laras pendek dan amunisinaktif kaliber 7,62 mm.

Dari kantong celana pelaku juga ditemukan kunci T dimana barang bukti bersama tersangka kini sudah diamankan ke Polsek Rambang Dangku untuk diproses lebih lanjut.

Kapolres Muara Enim AKBP Afner Juwono melalui Kanit Reskrim Polsek Rambang Dangku, Ipda Guntur Iswahyudi mengatakan tersangka sudah diamanman di Polsek Rambang Dangku. “Ini untuk menjaga keamanan, tersangka telah memiliki atau menguasai senjata api dan itu melanggar pasal1 ayat (1) Undang-undang Darurat Nomor 12 tahun 1951,” ujar Guntur kemarin (28/4).

Saat ditanyakan apakah tersangka merupakan sindikat pelaku pencurian kendaraan bermotor karena ditemukan kunci T masih dalam pemeriksaan. “Kasus ini masih diperiksa, sejauh ini yang sudah pasti adalah kepemilikan senpira, kalau yang lain nanti pengembangannya,” ungkapnya.

Sementara itu, Suparman mengaku membawa senjata api hanya untuk berjaga-jaga. “Pistol itu untuk jago-jago be pak, nak pegi be samo kawan,” kilah Supraman.
Share:

Terseret arus Sungai Lematang, seorang petani tewas tenggelam


PALI - Derasnya arus sungai Lematang memakan korban jiwa, dimana Kurnain (55) warga Desa Sukaraja Kecamatan Tanah Abang Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) ditemukan mengambang di Sungai tersebut, pada Minggu pagi (28/4), setelah lebih dari 24 jam hilang karena hanyut terseret arus sungai Lematang. 

Peristiwa naas yang menimpa Kurnain, yang sehari-harinya sebagai petani ini saat pria paruh baya itu berniat mengambil kayu untuk membuat pemandian warga  di sungai Lematang. Namun korban apes dan tenggelam di sungai Lematang yang saat ini memang debit airnya cukup tinggi di tambah arus yang cukup deras.

"Korban hanyut dan tenggelam sejak Sabtu (27/4) sekitar pukul 09.30 WIB. Kemudian warga yang mengetahui kejadian itu berupaya melakukan pencarian dan langsung melaporkan ke BPBD untuk membantu proses pencarian," ungkap Pidin, warga setempat Minggu (28/4).

Setelah melakukan penyisiran, pada Minggu (28/4), sekitar pukul 09.30 WIB  jasad korban akhirnya ditemukan.

"Alhamdulillah sudah ditemukan, tetapi kondisi korban sudah meninggal," terang Defri, warga yang ikut melakukan pencarian. (sn)
Share:

Intensitas hujan tinggi, Sungai Lematang kembali rendam sejumlag desa di PALI


PALI - Hujan yang terus mengguyur seluruh wilayah Bumi Serepat Serasan yang hampir setiap hari turun dalam satu pekan terakhir ini membuat sungai Lematang tidak lagi mampu menampung air hujan, berimbas sungai yang membentang di sepanjang Kecamatan Tanah Abang Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) tersebut meluap.

Akibatnya desa yang wilayahnya rendah terendam, seperti Desa Curup Kecamatan Tanah Abang. Ketinggian air di desa tersebut mencapai 1,2 meter dan yang terdampak banjir lebih dari separuh pemukiman warga desa tersebut.

"Sudah dua hari, desa kami banjir. Seperti biasa, kalau banjir tiba, aktivitas warga terhambat," ungkap Ballian, kepala Desa Curup, Minggu (28/4).

Bukan hanya pemukiman, diakui Ballian bahwa sawah warga yang kebanyakan baru menyemai padi juga terendam.

"Kalau tidak surut dalam dua hari kedepan dipastikan benih padi petani mati. Desa kami memang berada diwilayah terendah, dan apabila musim  hujan sudah jadi langganan banjir, sudah berbagai upaya dilakukan pemerintah, tetapi belum juga mengatasi permasalahan ini," terang Kades.

Terpisah, Junaidi Anuar, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten PALI menyatakan bahwa pihaknya tetap selalu siap siaga.

"Kami terus memantau kondisi banjir di Desa Curup, ada petugas kita dilokasi, apabila kondisi itu sudah membahayakan, maka kita akan turun untuk mengevakuasi warga. Untuk saat ini,  banjir di desa tersebut masih kategori banjir tahunan dan diakibatkan juga banjir kiriman dari hulu sungai Lematang. Kalau tidak hujan lagi, diperkirakan dua hari kedepan akan surut," kata jelas Junaidi.

Dari pantauan media ini dilapangan, selain desa Curup yang terendam banjir, luapan sungai Lematang juga memutus akses jalan PALI-Prabumulih via Payu Putat. Pengguna jalan pun tidak sedikit yang memutar balik terutama yang menggunakan kendaraan roda empat. Untuk kendaraan roda dua, apabila ingin menyeberang, terpaksa harus menggunakan jasa perahu yang tentunya harus mengeluarkan ongkos lebih untuk jasa penyeberangan. (sn)
Share:

Youtube SiniNews

Facebook SINI News

Followers

Subscribers

Postingan Populer

Blog Archive

Comments

Berita Utama

sitemap

Recent Posts