Polisi Segera Usut Tuntas Dugaan Intimidasi Pihak PT PPM Terhadap Wartawan

PALI -- Kapolres PALI AKBP Yudi Suharyadi melalui Kapolsek Tanah Abang Iptu Roni Hermawan bakal segera mengusut tuntas kasus adanya dugaan intimidasi oknum pekerja PT PPM (Patlance Putra Mandiri) terhadap salah satu awak media yang hendak liputan insiden kecelakaan kerja yang menelan korban jiwa. Dimana kejadian yang menewaskan Supriyadi (49) salah satu pekerja perusahaan itu, pada Kamis (9/1).

"Yang dilaporkan oknum bersangkutan dan PT PPM. Atas masuknya laporan  kita segera tindaklanjuti dan bakal panggil pihak yang terlibat," ucap Roni, kepada media ini, Selasa (14/1).

Sebelumnya diketahui bahwa pada Senin (13/1) kemarin, puluhan wartawan di kabupaten PALI datangi Polsek Tanah Abang untuk melaporkan pihak PT PPM atau PT QEI, subcont dari Pertamina karena diduga telah melakukan intimidasi terhadap Redi Sumardi, salah satu awak media yang hendak liputan insiden kecelakaan kerja.


Dari keterangan Redi, bahwa kejadian itu berlangsung sehari pasca kecelakaan kerja terjadi, yakni pada Jumat (10/1). Dimana saat Redi hendak menjalankan tugasnya mengumpulkan data dan mengambil gambar di lokasi kejadian, rupanya oknum itu merampas handphone lalu menghapus seluruh foto-foto yang telah diambilnya.

Tidak sampai disitu, Redi juga dipaksa menandatangani surat pernyataan yang isinya tidak memberitakan kejadian kecelakaan kerja tersebut.

"Karena keselamatan saya terancam, saya terpaksa menandatangani surat itu. Tetapi dengan kejadian itu rupanya kawan-kawan lain mengetahuinya dan mendorong saya melaporkan kejadian itu ke Polsek Tanah Abang," kata Redi, Selasa (14/1).

Dengan laporan itu, dia meminta pihak kepolisian mengusut tuntas masalah tersebut. "Saat melapor, ada puluhan kawan-kawan awak media yang mendampingi saya, jadi permasalahan ini harus diusut karena jelas perusahaan itu melanggar undang-undang pers dan membungkam kebebasan pers," tandasnya. (sn)
Share:

Tim Penanggulangan Bencana PALI Siap Tempur

PALI -- Hadapi bencana banjir, longsor dan bencana lainnya saat penghujan, tim penanggulangan bencana kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) nyatakan siaga penuh dengan mengerahkan personil serta menyiagakan peralatan. 

Pernyatatan siaga penuh diutarakan Junaidi Anuar, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten PALI saat apel kesiapsiagaan, gelar pasukan dan peralatan penanggulangan bencana banjir, tanah longsor dan angin puting beliung yang dilaksanakan Selasa (14/1) di lapangan terbang ex Stanvack Kelurahan Handayani Mulya.

"Kita telah membentuk tim sesuai instruksi Bupati PALI dalam penanggulangan bencana. Karena menurut BMKG curah hujan tahun ini bakal lebih tinggi dari tahun sebelumnya," ungkapnya. 

Untuk melihat sejauh mana kesiapan personil penanggulangan bencana, dikatakan Junaidi bahwa apel kesiapsiagaan yang dihadiri Letkol Inf Syafruddin, Dandim 0404 muara Enim PALI dan Prabumulih (MPP), Sekda PALI Syahron Nazil juga sejumlah kepala OPD dan FKPD dilingkungan Pemkab PALI digelar. 

"Tim ini terdiri dari TNI, Polri, BPBD, Tagana dari Dinsos, PSC 119 dari Dinkes, Satpol.PP dan OPD terkait lainnya yang jumlahnya ada 440 personil. Pada giat ini kita bisa melihat sejauh mana kesiapan personil dan peralatan yang ada," tukasnya. 

Sementara itu, Dandim 0404 MPP Letkol Inf Syafruddin yang saat apel didaulat sebagai pimpinan apel menyebut bahwa dalam penanggulangan bencana ada tiga strategi. 

"Yang pertama adalah personil yang tangguh, kedua peralatan yang lengkap dan terakhir adalah koordinasi.Dalam penanggulangan bencana, perlu paradigma baru agar meminimalisir korban serta kerugian materi," kata Dandim. 

Tim penanggulangan bencana juga telah memetakan daerah-daerah rawan bencana di PALI. Dijelaskan Dandim, PALI miliki wilayah yang berada persis di hilir sungai Lematang, dan daerah itu sangat berpotensi terjadinya banjir dan longsor. Daerah yang rawan bencana  ada di Kecamatan Tanah Abang 10 desa, 4 desa ada di kecamatan Penukal Utara, 2 desa di Penukal, 2 desa di Abab dan ada 5 titik Talang Ubi.

"Dalam menangggulangi bencana, perlunya mendirikan posko dan menyiagakan pelayanan kesehatan," pungkasnya. (sn) 
Share:

Dibantu RS 10 Juta, Bayi Delfa Barqi Abbasy Belum Bisa Pulang. Warga Pertanyakan Sikap Pemkot?

Foto : Direkut RS.Fadilah (tengah) dan Kepala Humas beserta staf saat konferensi pers memberikan tanggapan terkait isu dugaan penahanan bayi
PRABUMULIH, SININEWS.COM – Masalah ekonomi yang menjadi titik awal persalinan putra kembar Delfa dan Delfi yang dirawat di Rumah Sakit Swasta di Kota Prabumulih yang terpaksa harus berpisah dengan kedua orang tuannya itu ditanggapi oleh pihak direktur RS.Fadilah, senin (13/1/20)

Drg.Mariska selaku Direktur Rumah Sakit Fadilah akhirnya angkat bicara setelah sekitar 2 jam lebih tim media sininews.com menunggu untuk konfirmasi berita terkait dugaan penahanan bayi selama tiga bulan karena tidak bisa melunasi biaya adminitrasi perawatan putra Febrianto itu

Pihak Rumah Sakit mengklaim bahwa dari total tagihan sekitar Rp.30 juta telah dipangkas Rp.10 juta yang merupakan kebijakan dari rumah sakit dan ditambah lagi sumbangan dari pihak dermawan sekitar Rp.6,8 juta 
Foto : Bayi Delfa saat didalam ruangan anak sedang dirawat oleh suster rumah sakit Fadilah
“kita sudah memotong biaya perawatan bayi tersebut guna meringankan bebannya, namun pihak keluarga belum juga bisa melunasi” ucapnya seraya mengatakan saat ini biaya perawatan bayi mulai dari pembelian susu, popok bayi dan lainnya juga dibebankan ke keluarga pasien namun karena orang tua bayi tak mampu pihak rumah sakit berinisitif untuk membantu secara pribadi

Diketahui, saat ini pegawai rumah sakit secara sukarela memberikan bantuan seperti minyak telon, susu dan popok untuk kebutuhan sang bayi karena ketidak mampuan orang tuanya membayar besarnya biaya perawatan 

Disinggung mengenai surat perjanjian yang tertulis akhir pembayaran tanggal 17 Januari mendatang anak tersebut akan segera di adopsi, pihak RS Fadilah masih memberikan kebijakan yang longgar diantaranya akan kembali dilakukan musyawarah bersama Pemerintah terkait untuk mencari jalan keluar

Tak hanya itu pihak rumah sakit telah menutup biaya penagihan perawatan sang bayi sejak 2 Desember 2019 lalu karena akan menambah beban tagihan RS kepada keluarganya

Dari pihak keluarga Febrianto ayah dari Delfa Barqi Abbasy mengatakan saat ini telah berusaha meminta bantuan ke Pemerintah Kota Prabumulih namun dirinya belum mendapat tanggapan yang positif dengan alasan tempatnya bersalin merupakan rumah sakit swasta

“aku sudah ngadep pak walikota, tapi dio belum biso bantu secara keselurahan karno ujinyo itu rumah sakit swasta” terangnya menirukan ucapan walikota Prabumulih 

Dari tanggapan tersebut banyak pihak mempertanyakan kewajiban Pemerintah dalam mengayomi warganya yang membutuhkan bantuan terkait apapun dan dimanapun tempatnya berobat (tau/sn1)

Share:

Sampah Menggunung di Pahlawan Ujung, Warga Mengeluh

PALI -- Warga Pahlawan Ujung Kelurahan Talang Ubi Selatan Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) mengeluhkan tumpukan sampah dipinggir jalan yang setiap hari terus menumpuk dan mengeluarkan aroma tak sedap. Warga meminta instansi terkait mengangkut sampah yang sudah menggunung, karena selain menimbulkan bau tak sedap, juga mengintai kesehatan warga sekitar. 

Seperti diutarakan Yunus salah satu warga setempat bahwa sampah yang menumpuk itu selama penghujan tidak pernah dibersihkan dan diangkut pihak terkait dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten PALI. 

Bahkan Yunus mengunggah surat terbuka kepada pemerintah kabupaten PALI atas adanya masalah itu di media sosial. 

"Buat bapak/ibu pejabat PALI yang terhormat, tolong sampah ditempat kami jalan Pahlawan ujung depan kebun jeruk tidak pernah lagi dibersihkan atau diambil oleh dinas terkait. Ini musim penghujan bau aromanya sudah menyengat. Beri kami solusi agar warga sekitar tidak buang sampah ditempat itu," tulis Yunus di akun facebooknya, Senin (13/1).

Kondisi itu dibenarkan juga Peri, warga lainnya bahwa asal sampah tersebut memang dari warga sekitar Tetapi membuang sampah ke lokasi tersebut terpaksa dilakukan warga akibat tidak ada Tempat Penampungan Sampah (TPS) sementara disekitar itu. 

"Kalau ada bak penampungan, mungkin kami tidak membuang sampah ke tempat itu. Oleh karena itu, kami minta solusi agar lingkungan kami sehat bebas dari sampah," pintanya. 

Menyikapi masalah itu, Kodsi Iskandar Plt Kepala Dinas LH bakal segera mengeruk sampah yang sudah membuat warga mengeluh. 

"Kita segera angkut sampah itu," singkatnya. (sn) 
Share:

Dewan PALI Sesalkan Kecelakaan Kerja Pada RIG Subcont Pertamina dan Kecam Arogansi Pihak Perusahaan Terhadap Awak Media


Foto. Irwan ST 


PALI -- Wakil Ketua I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) Irwan ST geram mendengar kabar ada salah satu awak media mendapat perlakukan tidak terpuji dari pihak PT PPM, salah satu perusahaan subcont Pertamina yang hendak liputan terkait kecelakaan kerja pada perusahaan itu. 

"Mereka (awak media,red) hendak meliput koq dihalangi, padalah dengan pemberitaan kabar kecelakaan itu bisa jelas penyebabnya. Perlakuan pihak perusahaan sudah melanggar undang-undang karena telah membungkam kebebasan pers di negeri ini," kata Irwan ST, Senin (13/1).

Politisi Golkar itu juga mempersilahkan awak media yang merasa di intimidasi melapor ke pihak berwajib. "Silahkan laporkan, karena perusahaan itu salah," tandasnya. 

Menyikapi kecelakaan kerja yang menelan korban jiwa, Irwan ST meminta OPD terkait dalam hal ini Disnakertrans dan kepolisian mengusut penyebab kejadian itu. 

"Kalau ada kelalaian, tindak tegas, dan pihak Disnaker tolong cek SOP perusahaan itu," tegasnya. 

Sementara itu, pihak perusahaan hingga berita ini diturunkan, belum juga bisa dihubungi. (sn)  
Share:

Disnakertrans PALI Sebut PT PPM Tidak Terdaftar


Foto. Kadisnakertrans PALI 


PALI -- Menyikapi adanya kecelakaan kerja di perusahaan Migas subcont Pertamina yang dikerjakan PT QEI melalui PT PPM berlokasi di Desa Suka Manis Kecamatan Tanah Abang Kabupaten PALI, dimana kejadian itu menelan korban jiwa satu pekerjaannya dan dua pekerja lainnya terluka kemudian sejumlah awak media menelusuri keabsahan perusahaan tersebut. 

Dan setelah menyambangi Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten PALI, terkuak bahwa PT PPM selaku pelaksana pekerjaan itu tidak terdaftar. 

"Setelah kita telusuri, PT PPM tidak terdaftar, padahal seluruh perusahaan meskipun subcont harus lapor ke kita termasuk jumlah pekerjanya," kata Usmandani, Kepala Disnakertrans PALI, Senin (13/1).

Diakuinya bahwa sebagian besar perusahaan subcont pertamina main kucing-kucingan alias tidak mendaftarkan perusahaannya saat beroperasi di PALI. 

"Kalau sudah ada masalah seperti ini, kami selaku Disnaker kena getahnya dan baru memberi tahu. Namun untuk kecelakaan kerja di PT PPM kami baru mengetahui dari kawan-kawan media," tukasnya. 

Ditegaskan Usmandani bahwa ada sanksi tegas bagi perusahaan yang dengan sengaja tidak melapor ke Disnaker. 

"Ancamannya pidana penjara selama 3 bulan bagi perusahaan yang tidak melapor," tandasnya. (sn) 
Share:

Hendak Liputan Kecelakaan Kerja, Salah satu Wartawan di PALI Dibungkam


foto. saat Redi dkk datangi Polsek Tanah Abang 

PALI -- Menindaklanjuti adanya informasi adanya kecelakaan kerja di sebuah proyek RIG yang dikerjakan PT PPM untuk PT QEI subcont Pertamina di wilayah Desa Suka Manis Kecamatan Tanah Abang Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Redi Sumardi, salah satu jurnalis yang bertugas di Kabupaten PALI berniat meliput ke lokasi kejadian. 

Tetapi saat sudah masuk ke TKP pada Jumat (10/1) lalu, Redi langsung ditahan oknum koordinator lapangan dan meminta handphonenya yang langsung menghapus seluruh gambar lokasi yang sempat diambil fotonya. 

Tidak sampai disitu, Redi juga dipaksa untuk menandatangani surat pernyataan diatas materai yang isinya tidak akan mempublikasikan berita kecelakaan dan tidak menyebarkan foto-foto lokasi kejadian. 

"Daripada keselamatan saya terancam, maka dengan berat hati saya teken surat pernyataan itu. Namun untuk kawan awak media lain kalau mau memberitakan, itu diluar tanggungjawab saya," kata Redi, Senin (13/1).

Karena merasa terancam dan kebebasan pers dibungkam, Redi didampingi puluhan awak media melapor ke Polsek Tanah Abang. 

"Hari ini (senin) saya bakal lapor polisi," tandasnya. (sn) 
Share:

Terikait Dugaan Penahanan Bayi, Pihak Rumah Sakit Susah Ditemui


PRABUMULIH, SININEWS.COM – Delfa Barqi Abbasy bayi lahir prematur pasangan dari Febrianto (27) dan Armi Kurniati (23 yang diduga ditahan oleh pihak rumah sakit swasta di Prabumulih karena tak mampu membayar biaya adminitrasi persalinan selama tiga bulan lebih itu terus berlanjut, senin (13/1/20)

Pihak Rumah Sakit Fadilah di Jalan Jendral Sudirman Kelurahan Patih Galung Kecamatan Prabumulih Barat Kota Prabumulih yang menangani langsung persalinan bayi tersebut masih belum bisa ditemui untuk mengkonfirmasi kebenaran berita tersebut

Fuji Kepala Humas RS Fadilah saat dikonfirmasi melalui telepon dan via Whatsapp saat ini belum bisa ditemui, sebelumnya tim sininews.com menemui tim pelayanan pusat informasi dan registrasi mengaku masih ada rapat dilingkungan rumah sakit dan sampai saat ini tim media masih menunggu

“staf humas masih rapat pak, kalau mau konfirmasi silahkan tunggu” ucap staf disana

Sementara itu pihak humas saat di hubungi melalui pesan whatsapp mengaku sedang Dinas Luar (DL) dan tidak bisa menemui tim media dari sininews.com

“maaf mas kita masih DL” balasnya singkat

Untuk informasi saat ini sejumlah awak media mulai berdatangan untuk meminta konfirmasi langsung dari pihak managemen rumah sakit (sn1)


Share:

Pipa RIG Milik Subcont Pertamina Pecah, Satu Pekerja Tewas Dan Dua Lainnya Masuk Rumah Sakit

foto. Korban 


PALI -- Kecelakaan kerja terjadi di salah satu perusahaan Migas yang beroperasi di wilayah Kecamatan Tanah Abang Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) tepatnya pada RIG milik PT EPI yang dikontrak PT PPM. Dimana PT PPM tengah mengerjakan proyek pengeboran milik PT QEI (Queen Energy Indonesia) salah satu subcon Pertamina. 

Lokasi kejadian itu tepatnya di sumur Candi 03 Talang Gula Desa Sukamanis,  Kamis (9/1) sekitar pukul 11.00 WIB. 

Pada kejadian itu, dikabarkan satu pekerja meninggal dunia bernama Supriyadi (49) warga Rejosari Kelurahan Talang Ubi Utara Kabupaten PALI, dan dua pekerja lainnya terluka dan harus dilarikan ke rumah sakit. 

Kejadian itu terkuak dari pihak keluarga korban. 

"Kami dapat kabar pukul 13.00 WIB dari teman kerja suami aku bahwa suami aku alami kecelakaan kerja. Lalu kami berangkat ke Tanah Abang, tapi ditengah jalan kami dikabari bahwa suami aku meninggal," ungkap Erkomsiatun, istri korban Supriyadi, kepada sejumlah awak media, Senin (13/1).

Ditambahkannya bahwa korban telah dikebumikan dan ada pihak perusahaan sempat datangi rumah duka. 

"Pihak perusahaan memang sudah datang, ucapkan bela sungkawa dan memberikan gaji suami aku selama 10 hari. Karena suami aku statusnya masih pekerja harian, sebab masa kerja baru satu bulan, sejak tanggal 13 Desember 2019. Namun sangat disayangkan, pihak perusahaan tidak menceritakan kronologi kejadiannya," tambahnya. 
foto. Lokasi 


Mendapat kronologi kejadian diakui istri korban jurstu dari rekan kerja korban. 

"Dari keterangan teman kerja suami aku bahwa ada pipa gas pecah dan mengenai kepala suami aku dan dua rekannya. Lalu seluruh korban dilarikan ke Puskesmas Tanah Abang kemudian dirujuk ke RSU Prabumulih, namun suami aku meninggal dunia," kenangnya.

Pihak keluarga ditegaskan Erkomsiatun meminta pihak kepolisian mengusut masalah tersebut dan meminta pihak perusahaan bertanggung jawab.

"Suami aku itu tulang punggung keluarga, dia tutup usia meninggalkan empat anak yang masih sekolah. Untuk itu kami meminta pertanggungjawaban perusahaan," pintanya. 

Sementara pihak PT PPM hingga saat ini belum bisa dihubungi. (sn) 
Share:

Sedih! Butuh Bantuan, 3 Bulan Sejak Lahir Febri tak Bisa Bawa Pulang Anak Kandungnya

Foto : Febrianto (27) memperlihatkan foto anaknya yang masih dirawat di Rumah Sakit dan tak bisa dijemput karena terkendala biaya persalinan selama 3 bulan 
PRABUMULIH, SININEWS.COM – Kelahiran seorang anak sangatlah ditunggu-tunggu oleh seorang ayah dan ibu tak terkecuali keluarga besarnya, mendambakan kehadiran sang buah hati merupakan impian setiap orang, ditengah hiruk-pikuk dunia, melonjaknya bahan pangan hingga mahalnya biaya berobat menjadikan keluarga Febrianto (27) warga Jalan Mat Kuri Rt.01 Rw 05 Kelurahan Muara Dua Kecamatan Prabumulih Timur ini tak berdaya ketika sang buah hati yang telah pantas melihat bumi namun tak diizinkan tinggal bersama kedua orang tuannya

Dilahirkan kebumi 23 September 2019 lalu Delfa Barqi Abbasy dan Dilfa Barqi Abbasy kedua putra kembar yang dilahirlkan dari rahim seorang ibu Yul Armi Kurniati (23) warga Kelurahan Tanjung Rambang Kecamatan RKT itu berharap besar untuk berkumpul dengan anaknya yang kini dipisahkan karena ekonomi

Kelahiran sang buah hati di Rumah Sakit swasta di Prabumulih itu dengan keadaan mengalami kelahiran Prematur atau Sepsis Neonatorum yang disebabkan oleh Virus dan Bakteri sehingga kedua bayi tersebut harus dirawat intensif hingga dilakukan Inkubator agar bisa bertahan hidup di luar rahim dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Hal tersebut menambah beban biaya perawatan seorang keluarga yang hanya bergantung dengan pekerjaan yang tak menentu

Febri, ayah Delfa dan Dilfa yang merupakan seorang buruh bangunan itu tak sanggup menahan sedih dan rindu kepada sang buah hati yang hingga kini tak bisa tinggal bersama selama sekitar 3 bulan lebih lamanya karena tak sanggup membayar besarnya biaya perawatan sang bayi yang mencapai hingga Rp.30 juta

Tak hanya itu sebulan usai dilahirkan kedunia Dilfa, sang kembar pun pamit untuk selamanya sebelum sempat berkumpul dengan keluarga besarnya. Rasa haru, sedih dan ke tak sanggupan ekonomi keluarganya menambah penatnya fikiran sang ayah yang hanya mengandalkan pekerjaan sebagai kuli bangunan

Hitungan bulan terus berjalan sampai saat ini sang bayi pun sudah mulai aktif belajar (merangkak) namun dirinya tak mengenal hangatnya pelukan ayah dan manisnya air susu ibu (asi) 

Seiringnya waktu terus berjalan keluraga Febri terus melakukan upaya untuk melunasi hutang perawatan sang anak yang sampai saat ini tinggal Rp.17 juta untuk mengambil anaknya

“waktu lalu ada hamba Allah yang bantu, dan dari lembaga sosial yayasan IMI Prabumulih juga ikut bantu kami pak dan kito harap ado Pemerintah biso bantu kami” ucapnya sedih seraya mengatakan dirinya membutuhkan uluran tangan dari para Dermawan untuk mempertemukan anaknya

Sementara itu, Nunung Damayanti Ketua Yayasan Insan Merdeka Indonesia (YIMI) Kota Prabumulih pihaknya terus melakukan komunikasi dengan lembaga dan instansi terkait untuk membantu Delfa sang bayi prematur untuk bertemu keluarganya

“sebelumnya kita sudah melakukan survei ke rumah orang tua bayi dan saat ini kami telah berupaya mencarikan donatur untuk meringankan beban keluarga Febri” ucapnya

Perlu diketahui, saat ini pihak rumah sakit telah memberikan jatuh tempoh tanggal 17 Januari mendatang jika dalam tempo tersebut pihak keluarga tidak bisa melunasi adminitrasi dengan sangat terpaksa Delfa Barqi Abbasy akan diserahkan ke rumah sakit untuk di Adopsi (sn1)

Share:

Youtube SiniNews

Facebook SINI News

Followers

Subscribers

Postingan Populer

Blog Archive

Comments

Berita Utama

sitemap

Recent Posts