Polres Masih Selidiki Pelaku Pembakaran

MUARA ENIM, SININEWS.COM - Semakin meluasnya dampak kebakaran hutan khusanya saat pembukaan lahan saat ini tetap menjadi perhatian pihak kepolisian. Pihak Polres Muara Enim saat ini masih terus melalukan penyelidikan terkait pelaku pembakaran.

Kapolres Muara Enim, AKBP Afner Juwono, melalui Kabag Opsnya, Kompol Irwan Andeta, ketika dikonfirmasi awak media mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan pelaku pembakaran hutan dan lahan tersebut.

                 “Sampai saat ini kita belum bisa menetapkan siapa identitas pelaku pembakaran lahan. Karena kita kesulitan bukti maupun saksi yang mengetahui pelaku pembakar lahan tersebut,” jelas Irwan saat dihubungi awak media melalui ponselnya, Rabu (21/8).

                 Menurutnya, lahan tersebut diketahui terkabar setelah kejadian dan tak ada saksi yang mengetahui siapa pembakarnya. “Saat ini lagi mendalami siapa pemilik lahan yang terbakar tersebut,” tegasnya.

              Dijelaskannya, pihaknya terus berupaya melakukan pemadaman terhadap lahan yang terbakar maupun melakukan pencegahan dengan melakukan patroli Karhutla personil gabungan Polres dan Polsek.

             Petugas gabungan melakukan patroli ke kawasan lahan dan hutan untuk melihat titik api. Kemudian memberikan himbauan kepada masyaraka agar tidak melakukan  membakar lahan untuk membuka kebun.

              Dijelaskannya, pihaknya telah menyiapkan 10 tim gabungan di setiap kecamatan yang rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Sebanyak 10 tim gabungan yang dibentuk, lanjutnya dibagi ke dalam dua kelompok.

              Sebanyak 5 tim melakukan pengawasan rawan kebakaran hutan dan kebakaran di kecamatan yang ada di wilayah Muara Enim. Yakni Kecamatan Sungai Rotan, Gelumbang, Rambang Niru, Kelekar dan Gunung Megang.

              Sedangkan lima tim lagi melakukan pengawasan di kecamatan rawan Karhutla di wilayah Kabupaten PALI. Yakni Kecamatan Penukal, Penukal Utara, Talang Ubi,  Abab dan  Tanah Abang.

              “Data yang sudah kami terima lahan yang terbakar saat ini sekitar 6,5 hektar terjad di Kecamatan Sungai Rotan, Kabupaten Muara Enim dan seluas 10 hektar di kawasan perkebunan kelapa sawit PT LKK di Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten PALI,” jelasnya.
Share:

Tak Kunjung Padam, BPBD Dan Tim Gabungan Terus Berupaya Padamkan Api

MUARA ENIM, SININEWS.COM - Kemarau panjang yang berlangsung saat ini, membuat kebakaran hutan  dan lahan (Karhutla) di wilayah Kabupaten Muara Enim terus terjadi. Bahkan saat ini kobaran api yang membakar lahan gambut terjadi di Desa Danau Tampang dan Desa Sukamerindu, Kecamatan Sungai Rotan, Muara Enim belum berhasil dipadamkan oleh tim gabungan dari BPBD Pemkab Muara Enim, Kodim 0404 dan Polres Muara Enim.

               Lahan gambut yang terbakar di dua desa itu diperkirakan sudah lebih dari 14 hektar.  Kobaran api  belum juga dapat dipadamkan, karena  sulitnya medan menuju lokasi kebakaran. Selain itu petugas juga mengeluhkan minimnya personel dan peralatan sehingga petugas pun harus siaga 24 jam dilokasi guna memadamkan api. Pemadaman di dua desa ini memerlukan banyak personel dan peralatan.

               “Saya masih dilokasi kebakaran lahan. Api belum berhasil dipadamkan, kita terus berupaya melakukan pemadaman. Petugasd kami 24 jam dilokasi untuk memadamkan api,” jelas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Muara Enim,Tasman, Rabu (21/8).

           Menurutnya, upaya pemadaman via udara juga telah dilakukan menggunakan helikopter waterbombing. Sayangnya, lanjut Tasman upaya itu hanya membuat api padam sejenak dan muncul lagi beberapa jam kemudian. 

" Selama tiga hari waterbombing digencarkan di desa Suka Merindu dan dua  hari di Desa Danau Tampang, tapi lahan gambut tetap terbakar sampai hari ini (red:kemarin),"jelasnya.

               Begitu juga upaya pemadaman yang dilakukan petugas dilapangan. Petugas mengandalkan peralatan seperti selang dan mesin pompa air.  Saat proses pemadaman petugas juga sulit menempuh jalan menuju titik api. Karena  lokasi  titik api sangat jauh dari jalan, termasuk sumber air untuk pemadaman juga sangat terbatas.

              Untuk melakukan upaya percepatan pemadaman Karhutla, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muara Enim pada tahun ini mengajukan pembangunan embung (tempat menyimpan air) kepada pemerintah pusat guna menjamin ketersediaan air didaerah rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutlah).

           Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Muara Enim, H Hasanudin menuturkan, adanya pembangunan embung diharapkan dapat mengantisipasi karhutlah hingga membantu proses pemadaman yang dilakukan petugas dilapangan.

              "Tahun ini sedang dibangun kanal embung, proyek APBN, tahun depan dianggarkan lagi,"kata Sekda.

              Menurutnya, di kabupaten Muara Enim banyak terdapat daerah langganan karhutlah seperti dii Gelumbang, Sungai Rotan, Muara  Belida dan Kelekar. Didaerah tersebut  banyak  terdapat lahan gambut sehingga  jika terbakar sulit dipadamkan.

             "Seperti kebakaran di dua desa Danau Tampang dan Suka Merindu, Kecamatan Sungai Rotan sudah terhitung 10 hari disana terbakar, kendalanya lahan gambut sangat sulit dipadamkan, ditambah minimnya air karena kendaraan sepeda motor  sulit  menuju lokasi terbakar yang jaraknya mencapai 3-4 km dari jalan," jelasnya.

               Dengan adanya banyak embung, lanjutnya,  kendala petugas sulitnya mencari sumber air saat pemadaman akan teratasi. Disamping itu juga, Sekda juga mengharapkan peran serta perusahaan sekitar wilayah Karhutlah untuk turut berkontribusi membangun embung.  

            "Perusahaan dan perkebunan wajib berkontribusi dan bertanggung jawab, jarak radius 5km terjadi karhutlah maka perusahaan bersangkutan wajib ikut membantu,"tegasnya.
Share:

Tolak Revisi RUU Ketenagakerjaan, GEKANAS beri tuntutan


JAKARATA, SININEWS.COM - Terkait revisi Undang – undang Ketenagakerjaan, seluruh pekerja yang tergabung dalam organisasi 
serikat pekerja (GEKANAS) tegas melakukan. Penolakan tersebut dilakukan karena wacana revisi undang – undang tersebut dianggap akan sangat merugikan para pekerja.

“Kami dari GEKANAS (Gerakan Kesejahteraan Nasional) yang merupakan gabungan dari organisasi pekerja tegas menolak rencana revisi UU Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan karena akan sangat merugikan para pekerja,” tegas koordinator Gekanas R. Abdullah di Jakarta, Rabu (21/8/2019)

Abdullah pun menegaskan beberapa alasan penolakan tersebut, antara lain, karena sampai saat ini belum ada kajian yang pasti tentang manfaat revisi tersebut. Belum lagi, keterwakilan organisasi serikat pekerja tidaklah dilibatkan dalam pembahasan revisi undang – undang tersebut.

"Karena undang-undang ini 
sangat menentukan nasib 51 juta pekerja formal yang sedang bekerja dan jika dijumlahkan dengan 
keluarganya dapat mencapai seratus juta lebih atau sekitar 50% penduduk Indonesia, makanya harus profesional dan harus sangat hati-hati dalam menentukan suatu kebijakan.” ungkap Abdullah.

Bahkan, lanjut R. Abdullah, pemerintah sendiri belum melakukan Dialog secara komprehensif dengan serikat pekerja/serikat buruh dalam hal rencana revisi undang-undang tersebut. Apalagi, kata 
Abdullah, mekanisme pengambilan keputusan untuk merevisi undang-undang tersebut belum dijalankan dengan benar.

"Hal ini ditandai dengan tidak adanya dokumen resmi sebagai hasil pembahasan bersama 
dengan semua pihak terkait, terlebih dengan perwakilan para pekerja, yang ada adalah bahwa revisi undang-undang ketenagakerjaan telah disetujui oleh LKS Tripartit, itupun LKS Tripartit tahun 2016 tetapi sekali lagi 
tanpa dokumen yang resmi.” Katanya.

Bukan tanpa alasan jika organisasi pekerja menolak wacana revisi tersebut. Menurut Abdullah, 
karena berulangnya cara-cara lama yang dilakukan oleh organisasi pengusaha yang tergabung dalam 
Asosiasi Pengusaha dalam mengupayakan revisi undang-undang tersebut.

“Jadi Asosiasi Pengusaha mencoba menggulirkan kembali keinginan untuk merevisi undang-undang 
ini dengan membuat opini kepada Presiden bahwa undang-undang ini termasuk yang menghambat dunia 
usaha dan perekonomian Indonesia, padahal itu semua belum tentu kebenaranya,” tegasnya.

Untuk diketahui, GEKANAS (Gerakan Kesejahteraan Nasional) merupakan organisasi gabungan 
dari berbagai serikat pekerja yang terdiri dari antara lain FSP KEP SPSI, FSP LEM SPSI, FSP RTMM SPSI, FSP KEP KSPI, PPMI 1998, FSPI, FSPAR REF dan PPMI KSPI.
(sn)
Share:

Miris!! Ditelantarkan Kedua Orang Tua, Kondisi Rahmadi Mirip Kena Busung Lapar

PALI,SININEWS.COM -  Rahmadi warga Desa Sungai Baung Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) yang seharusnya pada usia 17 tahun tengah memasuki fase puber dan menginjak remaja rupanya tidak sesuai perkembangan pada tubuhnya, lantaran dari kondisi yang terlihat saat ini, tubuh Rahmadi hanya tinggal belulang dibungkus kulit dan masih seperti anak-anak.

Diterangkan Ponirah (75), tetangga Rahmadi saat ditemui media ini di RSUD Talang Ubi bersama tim JPKP PALI, pada Rabu (21/8) yang membawa Rahmadi untuk dicek kesehatannya bahwa tiga tahun silam kondisi Rahmadi tidak seperti sekarang ini.

Dimana diceritakan Ponirah bahwa sejak lahir, Rahmadi diberikan ke kerabat orang tuanya yang ada di pulau Jawa. Namun setelah usianya menginjak 13 tahun, ibu angkat yang merawatnya meninggal dunia.

Selanjutnya, pihak keluarga yang merawat Rahmadi mengembalikannya ke orang tua kandungnya yang ada di Sungai Baung. Tetapi mengetahui kondisi Rahmadi yang alami tuna wicara atau bisu, kedua orang tuanya menolak untuk merawatnya.

"Sempat tinggal di rumpun pohon pisang, tidak diajaknya masuk ke dalam rumah. Makan pun terkadang Rahmadi minta-minta ditetangga. Tidak tahu apa penyebab kedua orang tuanya seperti itu. Karena sering meminta makan pada tetangga, orang tuanya membuatkan pondok dibelakang rumahnya, kemudian Rahmadi suruh tinggal disana, dan pintu pondok itu digembok," kata Ponirah.

Diakui juga Ponirah bahwa sejak dikembalikan orang tua asuh Rahmadi, kondisinya normal bahkan besar tinggi dengan kulit putih bersih.

"Sekarang kurus kering, mungkin ini kurang rawat. Pernah ada Dinsos datang kediaman Rahmadi, tapi kedua orangtuanya menolak. Beruntung ada relawan yang memberi pengertian terhadap orang tua Rahmadi untuk selanjutnya Rahmadi dibawa ke RSUD," terangnya.

Sementara itu, Rena, relawan Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP) menyebut bahwa sudah dua kali pihaknya membawa Rahmadi ke RSUD Talang Ubi.

"Awalnya memang ditolak keluarga Rahmadi, tetapi setelah kita beri penjelasan, kedua orangtuanya membolehkan anaknya dibawa ke rumah sakit. Pertama kami bawa ke rumah sakit, Rahmadi dirawat inap, setelah sudah boleh pulang, kemudian dikembalikan lagi ke orang tuanya agar anak itu dirawat dengan baik. Namun setelah kami cek lagi, rupanya Rahmadi kembali dimasukan ke pondok yang kami nilai mirip kandang sapi dan dikerangkeng disana," ujar Rena.

Mengetahui hal itu, Rena kembali membawa Rahmadi ke RSUD Talang Ubi untuk memeriksakan kesehatannya.

"Langkah selanjutnya, kami bakal koordinasi dengan Dinsos PALI untuk mecari solusi kelangsungan kehidupan Rahmadi agar mendapat tempat yang layak. Sebab kalau dikembalikan lagi ke orangtuanya, ditakutkan akan ditelantarkan lagi," tambahnya. (sn)
Share:

Kesulitan Dapatkan Air Bersih, Pertamina Bantu Dahaga Warga Pendopo

PALI,SININEWS.COM -  Kemarau sepertinya masih belum berlalu, imbasnya debit sungai-sungai  berkurang, sumur-sumur dan sumber mata air telah banyak yang kering membuat sebagian wilayah di Bumi Serepat Serasan alami kriris air bersih.

Seperti dialami warga kota Pendopo Kecamatan Talang Ubi. Kesulitan air bersih di ibukota Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) selain akibat kemarau juga diperparah sering macetnya aliran air dari PDAM.

Melihat kondisi itu, Pertamina EP Asset 2  Pendopo Field turun tangan dengan mengirim mobil tangki air ke daerah yang benar-benar alami krisis air bersih.

"Ini bentuk kepedulian perusahaan. Kita bantu suplai air bersih di sekitar Kecamatan Talang Ubi yang memang warganya kesulitan air bersih," ungkap Ferry Prasetyo Wibowo, Ast Manager Pertamina Pendopo, Rabu (21/8).

Diakui Ferry bahwa sudah ada beberapa tempat yang dibantu suplai air bersih dalam kecamatan Talang Ubi.

"Sumberrejo Kelurahan Talang Ubi Utara  dan Desa Suka Maju yang telah kita bantu, karena dua daerah itu benar-benar sulit mendapatkan air bersih serta sumber mata air disekitar telah kering," imbuhnya.

Selain wilayah Kecamatan Talang Ubi, Ferry juga menyebut pihaknya juga suplai air bersih ke daerah Muba. Karena kondisi daerah itu juga masih lingkup wilayah kerja Pertamina Pendopo.

"Seperti Jirak Kabupaten Muba, kita juga bantu sebab kondisinya sama. Kita berharap dengan bantuan ini bisa meringankan kesulitan warga," harapnya. (sn)
Share:

Sambangi Kantor Walikota Tangerang, Bupati serahkan Aset milik daerah?


TANGERANG, SININEWS.COM - Bupati Kabupaten Tangerang  menyambangi kantor walikota Tangerang, di Komplek Pusat Pemeritahan (Puspem) kota Tangerang, Pada Rabu, 21/08/2019

Bupati Ahmed Zaki Iskandar didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Tangerang Moch Maesal Rasyd beserta rombongan tiba di kantor walikota Tangerang Rabu pagi

Dalam pertemuan antara Bupati Tangerang  dengan walikota Tangerang Areif R Wismansyah ini bertujuan untuk membahas proses penyerahan aset milik Daerah, baik aset milik daerah kabupaten Tangerang ke Pemerintah kota Tangerang maupun sebalik nya.

Dalam kesempatan ini bupati Zaki mengatakan kabupaten Tangerang menyerahkan 56 aset milik daerah dan kota Tangerang menyerahkan 7 aset nya dengan total nilai aset lebih dari 300 miliar aset dari kabupaten  serta 6 miliar aset dari kota Tangerang

"Aset yang akan diserahkan diantara stadion benteng terus juga bangunan bangunan  yang ada di cikokol termasuk bangunan di sekitar alun alun kota, sedangkan untuk kota ada TPA nanti yang ada di jati waringin," tambah Zaki

Dan disinggung sejauh mana proses penyerahan aset milik kabupaten dan kota Tangerang ini zaki menjelaskan, "Hampir final tinggal pembahas sedikit lagi di DPRD karena dari kita sudah siap," pungkasnya (sn/yogi)
Share:

Tolak Wacana Pilkades Diundur, Puluhan Cakades Gruduk DPMD PALI

PALI,SININEWS.COM - Proses Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di wilayah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) kembali menuai masalah, setelah biaya Pilkades serta hasil psikotes diselesaikan, kini muncul masalah baru dengan adanya isu gelaran Pilkades yang rencananya digelar 29 Agustus 2019 mendatang bakal diundur.

Tentu saja isu yang berhembus itu mendapat penolakan dari sejumlah calon Kepala Desa, berimbas puluhan calon Kades mendatangi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten PALI, Rabu (21/8).

Seperti diutarakan Paradi, calon Kepala Desa Tempirai Selatan Kecamatan Penukal Utara. Menurut Paradi, bahwa rencana bakal diundurnya gelaran Pilkades seharusnya dibatalkan, lantaran hampir 100 persen desa-desa yang akan melaksanakan hajat demokrasi itu sudah tidak mungkin diundur lagi.

"Seharusnya rencana pengunduran waktu Pilkades sebelum tahapan dimulai. Dan tahapan itu yang mengatur adalah dari DPMD kemudian dilaksanakan panitia Pilkades. Hingga saat ini, kertas suara sudah dicetak, tenda serta kursi dan perlengkapan lainnya telah dipesan dimana pelaksanaannya sesuai jadwal yang diberikan DPMD, jadi tidak mungkin lagi dimundurkan," ungkap Paradi.

Bukan hanya itu, Paradi juga mengaku bakal alami kerugian banyak apabila gelaran Pilkades diundur.

"Saat ini proses tahapan sudah memasuki masa kampanye, jadi bayangkan kalau masa kampanye diperpanjang, berapa biaya yang harus dikeluarkan kalau kampanye lama," tukasnya.

Sama halnya diutarakan Ruslan, calon Kades Muara Ikan Kecamatan Penukal Utara yang turut serta mendatangi kantor DPMD. "Jangan hanya karena kendala biaya yang berimbas pada diundurnya gelaran Pilkades. Terus terang, mau dibantu atau tidak oleh pemerintah, dana Pilkades kami tidak mempermasalahkan, yang penting gelaran Pilkades jangan diundur," tandasnya.

Menanggapi masalah itu Kepala DPMD PALI, A Gani Akhmad melalui Sekretaris DPMD Mardiansyah mengaku bahwa ada wacana untuk mengundurkan gelaran Pilkades. Diterangkan Mardiansyah bahwa pihaknya menunggu persetujuan dewan dalam pembahasan APBD perubahan, mengingat dana Pilkades bersumber dari APBD.

"Secara logika saja, bagaimana bisa menggelar pesta demokrasi kalau dana belum cair?. Memang ada yang sanggup menalangi terlebih dahulu dana Pilkades itu, namun kami sudah koordinasi dengan Kejari, bahwa hal itu menyalahi aturan. Jadi kami berharap, seluruh desa yang bakal gelar Pilkades jumlahnya ada 36 untuk bersabar menunggu informasi selanjutnya," terang Mardiansyah. (sn)
Share:

Coba Rampok Rumah Tetangga, Fiki Dicokok Polisi

PALI, SININEWS.COM - Fiki Prasetio bin Alfian warga Dusun IV  Desa Air Itam  Timur Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) terpaksa diciduk unit Reskrim Polsek Penukal Abab lantaran nekat masuk rumah Komsia (54) yang merupakan masih tetangga dengan tersangka Fiki, dimana tersangka masuk berniat mengambil barang-barang berharga milik korbannya.

Tersangka Fiki ditangkap polisi pada Kamis (15/8) sekitar pukul 15.30 WIB di kediamannya setelah sebelumnya menghilang pasca melakukan aksinya.

Diungkapkan Kapolres Muara Enim AKBP Afner Juwono melalui Kapolsek Penukal Abab Iptu Alpian disampaikan Kanit Reskrim Ipda Agus Widodo bahwa aksi pencurian dengan kekerasan, sebagaimana dimaksud dalam pasal 365 ayat 1 Jo 53 KUHP yang dilakukan tersangka pada Jum'at (9/8) sekira jam 14.00 Wib.

Dimana awalnya, saat korban sedang beristirahat tidur siang dirumahnya, tepatnya saat itu tidur diruang keluarga, lalu tiba-tiba korban dikejutkan dengan seseorang yang hendak mengambil uang dan juga handphone miliknya, yang saat hendak tidur disimpannya atau ditaruh dibawah bantal kepalanya.

Namun saat pelaku masuk ke rumah dan berusaha mencari barang berharga, korban terbangun. Mengetahui hal itu, pelaku langsung membekap mulut korban dan memegangi leher korban.

Sambil membekap mulut korban, pelaku menanyakan dimana korban menyimpan uang dan hp miliknya. Namun korban saat itu langsung berteriak meminta tolong dan saat itu juga pelaku langsung mencekik leher korban.

Tetapi karena korban berontak, pelaku melepaskan cekikkan dileher korban kemudian kabur dari pintu belakang rumah korban.  Korban pun berteriak-teriak  dan keluar rumah, kemudian para tetangga yang mendengar teriakan korban langsung menghampiri korban dan menanyakan perihal kejadian yang korban alami, setelah itu warga pun mengejar pelaku namun pelaku saat itu berhasil melarikan diri setelah itu korban langsung melaporkan kejadian tersebut kekantor Polsek Penukal Abab.

"Setelah beberapa hari pelaku  menghilang tidak pulang kerumah, kita mendapat informasi pada Kamis (15/8) pelaku tengah berada dikediamannya. Langsung kita lalukan penggrebekan, dan pelaku berhasil kita amankan," terang Agus Widodo. (sn)
Share:

Cegah ISPA, Puskesmas Talang Ubi Bagikan 1.000 Masker

PALI,SININEWS.COM -  Antisipasi penyebaran Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat musim kemarau dan adanya kebakaran hutan dan lahan di wilayah Bumi Serepat Serasan yang menyebabkan timbulnya asap membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) turun tangan membagikan ribuan masker kepada masyarakat, Rabu (21/8).

Seperti terlihat di Simpang Lima Pendopo Kecamatan Talang Ubi, beberapa petugas Puskesmas Talang Ubi menghentikan laju kendaraan warga yang melintas disekitar Simpang Lima untuk membagikan masker.

Dikatakan Wili Asti, salah satu petugas Puskesmas Talang Ubi bahwa masker  yang dibagikan kali ini ada 1.000 buah.

"Mengurangi dampak kabut asap, kita bagikan masker agar dampaknya bisa diminimaslisir. Sebab imbas dari kabut asap yang disebabkan adanya kebakaran lahan dan hutan bisa menimbulkan penyakit ISPA," kata Wili.

Terpisah, Lydwirawan, Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) PALI menyebutkan bahwa pihaknya telah mengajukan 7.000 masker ke Pemprov.

"Itu untuk antisipasi merebeknya ISPA, yakni batuk, pilek dan gangguan pernapasan lainnya," ujar Lydwirawan.

Dia juga menghimbau agar masyarakat menggunakan masker setiap keluar rumah.

"Lebih baik mencegah daripada mengobati. Untuk itu pakailah masker ketika keluar rumah atau hendak bepergian, sebab kemarau saat ini tengah berada dipuncaknya," himbaunya. (sn)
Share:

Pramuka ME Stop Konsumnsi Pangan Impor

MUARA ENIM, SININEWS.COM - Gerakan pramuka di Kabupaten Muara Enim bertekad mengurangi konsumsi produk pertanian dan pangan impor. Hal ini untuk melindungi nasib petani yang terancam akibat murah dan mudahnya bahan pangan luar negeri masuk Indonesia.

Demikian disampaikan Bupati Muara Enim yang juga Majelis Pembimbing Kwartir Cabang Muara Enim, Ir H Ahmad Yani saat peringatan puncak Hari gerakan Pramuka, di lapangan Pemkab Muara Enim, Selasa (20/8).

"Saat ini perlu mencanangkan gerakan perlindungan petani dari serbuan produk luar, saya minta setiap anggota pramuka mulailah lebih banyak konsumsi produk lokal dan bertekad tidak konsumsi pangan impor,"tegas Yani

Yani menjelaskan ajakan tersebut bagian dari tema gerakan pramuka yang siap sedia membangun keutuhan negeri. Tema ini hadir ditengah-tengah keprihatinan akan banyaknya permasalahan kekinian yang mengancam keutuhan dan keberlangsungan negara.

"Merebaknya KKN, terpaparnya radikalisme dan terorisme serta maraknya narkoba menjadi tantangan terbesar bangsa, untuk itu seluruh anggota, pengurus kwartir, pelatih dan pembinan menanamkan nilai-nilai kejahatan luar biasa (extra ordinary crimes),"paparnya

Lebih lanjut, Yani menyeruhkan untuk menghentikan politisasi terhadap gerakan pramuka. Gerakan pramuka menurutnya adalah gerakan wadah tunggal, siap sedia membangun NKRI dan menepati janjinya Trisatya dan Dasa Darma Pramuka.

"Pemkab Muara Enim  pastinya siap mendukung sepenuhnya kegiatan pramuka baik moril maupun materil. Diharapkan pramuka dapat bersinergi mendukung program bupati dan Wakil Bupati Muara Enim,"pungkasnya.
Share:

Youtube SiniNews

Facebook SINI News

Followers

Subscribers

Postingan Populer

Blog Archive

Comments

Berita Utama

sitemap

Recent Posts